Pages

Jumat, 27 April 2012

Proses Kognitif, Motivasi, dan Tujuan Instruksional


Kognitif
kognitif adalah, perubahan dalam pemikiran, kecerdasan, dan bahasa. Proses perkembangan kognitif ini memampukan anak untuk mengingat pelajaran dan pengetahuan baru. Menurut Piaget proses perkembangan kognitif pada anak bermula dari sebuah pertanyaan "siapa yang tahu isi dari pikiran anak?" Pada tahap ini anak menggunakan skema dalam memahami dunia mereka, serta bagaimana anak mampu mengasosiasikan dan memahami pemikiran mereka.
Kemampuan bahasa pada anak juga mempengaruhi apakah perkembangan kognitif itu sudah berjalan dengan baik atau tidak.

Proses Kognitif
1.      Pemahaman Konseptual
Pemahaman konseptual adalah kunci dari pembelajaran. Tujuannya untuk membantu anak memahami konsep utama suatu subjek, bukan sekedar mengingat fakta yang terpisah-pisah. Konsep merupakan kategori mengelompokkan objek, kejadian, dan karakteristik berdasarkan properti umum.

2.      Berfikir
Berfikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori. Hal ini sering dilakukan dalam pembentukan konsep, penalaran, berfikir kritis, membuat keputusan, berfikir kreatif, dan memecahkan masalah. Penalaran adalah pemikiran logis menggunakan logika untuk menghasilkan kesimpulan. 

Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Inggris yaitu "Motivation" dengan kata dasar yaitu Motive yang berarti tujuan. Jadi kata motif ini bisa dikatakan sebagai sebab, tujuan, pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang dinginkannya.
Motivasi adalah proses pemberian semangat, arah, dan kegigihan perilaku (perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama). Motivasi ada yang intrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang di dapat dari dalam (diri sendiri), misalnya keinginan untuk berprestasi, untuk membahagiakan orang tua dengan menunjukkan prestasi. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang di dapat dari luar, misalnya dorongan dari orang tua agar anak dapat belajar lebih giat lagi dalam belajar.

Tujuan instruksional
Tujuan Instruksional (Instructional Objectives

  Defenisi Tujuan Instruksional
Materi suatu bidang studi tidak mungkin menjadi milik kita, tanpa dipelajari terlebih dahulu, baik dipelajari sendiri maupun diajarkan oleh guru. Proses atau kegiatan mempelajari materi ini terjadi dalam saat terjadinya situasi belajar mengajar atau pengajaran (instruksional). Dari perkatan pengajaran atau instruksional inilah maka timbul istilah tujuan instruksional merupakan bagaian dari pembelajaran, berbagai defenisi tujuan instruksional disampaikan oleh beberapa tokoh diantanya :
  • Robert F. Mager (1962), tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi tingkat kompetensi tertentu, 
  • Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981), tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang tersamar (covert), 
  • Fred Percival dan Henry Ellington (1984), tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan atauketerampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat sicapai sebagai hasil belajar.
Dari beberapa defenisi diatas maka tujuan instruksional adalah tujuan yang menggambarkan pengethuan, kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur.

Tujuan pengajaran (Instruksional) dikelompokkan menjadi dua yaitu:
  • Tujuan Instruksional Umum (TIU), yang menggariskan hasil-hasil dianeka bidang studi yang harus dicapai oleh siswa. 
  • Tujuan Instruksional Khusus (TIK).yang merupakan penjabaran TIU yang menyangkut satu pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu sebagai tujuan pengajaran yang kongkrit dan spesifik, yang dianggap cukup berharga, wajar dan pantas yang dapat direalisasikan dan bertahan lama demi tercapainya tujuan instruksional umum. TIK dapat dibedakn menjadi dua aspek yakni:
- Aspek jenis perilaku yang dituntut oleh siswa.
- Aspek isi yakni aspek terhadap hal yang harus dilakukan.

  Manfaat Tujuan Instruksional
Dalam pembaharuan system pendidikan yang berlaku di Indonesia sekarang ini, setiap guru dituntut untuk mengetahui tujuan pembelajaran dari kegiatannya mengajar dengan titik tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu dalam merancang system belajar yang akan dilakukannya, langkah pertama yang ia lakukan adalah membuat tujuan instruksional. Adapun manfaat tujuan instruksional adalah:
  • Guru mempunyai arah untuk memilih bahan pelajaran dan memilih prosedur (metode) mangajar, 
  • Siswa mengetahui arah belajarnya, 
  • Setiap guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenang mengajarkan suatu bahan sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah (gap) atau saling menutup (overlap) antar guru, 
  • Guru mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa, 
  • Guru sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang kebijaksanaan (decision maker) mempunyai criteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efiensi pengajaran.

Daftar pustaka
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group.



0 komentar:

Poskan Komentar

Jumat, 27 April 2012

Proses Kognitif, Motivasi, dan Tujuan Instruksional

Diposkan oleh Hikmah Nasution di 18.24

Kognitif
kognitif adalah, perubahan dalam pemikiran, kecerdasan, dan bahasa. Proses perkembangan kognitif ini memampukan anak untuk mengingat pelajaran dan pengetahuan baru. Menurut Piaget proses perkembangan kognitif pada anak bermula dari sebuah pertanyaan "siapa yang tahu isi dari pikiran anak?" Pada tahap ini anak menggunakan skema dalam memahami dunia mereka, serta bagaimana anak mampu mengasosiasikan dan memahami pemikiran mereka.
Kemampuan bahasa pada anak juga mempengaruhi apakah perkembangan kognitif itu sudah berjalan dengan baik atau tidak.

Proses Kognitif
1.      Pemahaman Konseptual
Pemahaman konseptual adalah kunci dari pembelajaran. Tujuannya untuk membantu anak memahami konsep utama suatu subjek, bukan sekedar mengingat fakta yang terpisah-pisah. Konsep merupakan kategori mengelompokkan objek, kejadian, dan karakteristik berdasarkan properti umum.

2.      Berfikir
Berfikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori. Hal ini sering dilakukan dalam pembentukan konsep, penalaran, berfikir kritis, membuat keputusan, berfikir kreatif, dan memecahkan masalah. Penalaran adalah pemikiran logis menggunakan logika untuk menghasilkan kesimpulan. 

Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Inggris yaitu "Motivation" dengan kata dasar yaitu Motive yang berarti tujuan. Jadi kata motif ini bisa dikatakan sebagai sebab, tujuan, pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang dinginkannya.
Motivasi adalah proses pemberian semangat, arah, dan kegigihan perilaku (perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama). Motivasi ada yang intrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang di dapat dari dalam (diri sendiri), misalnya keinginan untuk berprestasi, untuk membahagiakan orang tua dengan menunjukkan prestasi. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang di dapat dari luar, misalnya dorongan dari orang tua agar anak dapat belajar lebih giat lagi dalam belajar.

Tujuan instruksional
Tujuan Instruksional (Instructional Objectives

  Defenisi Tujuan Instruksional
Materi suatu bidang studi tidak mungkin menjadi milik kita, tanpa dipelajari terlebih dahulu, baik dipelajari sendiri maupun diajarkan oleh guru. Proses atau kegiatan mempelajari materi ini terjadi dalam saat terjadinya situasi belajar mengajar atau pengajaran (instruksional). Dari perkatan pengajaran atau instruksional inilah maka timbul istilah tujuan instruksional merupakan bagaian dari pembelajaran, berbagai defenisi tujuan instruksional disampaikan oleh beberapa tokoh diantanya :
  • Robert F. Mager (1962), tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi tingkat kompetensi tertentu, 
  • Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981), tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang tersamar (covert), 
  • Fred Percival dan Henry Ellington (1984), tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan atauketerampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat sicapai sebagai hasil belajar.
Dari beberapa defenisi diatas maka tujuan instruksional adalah tujuan yang menggambarkan pengethuan, kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur.

Tujuan pengajaran (Instruksional) dikelompokkan menjadi dua yaitu:
  • Tujuan Instruksional Umum (TIU), yang menggariskan hasil-hasil dianeka bidang studi yang harus dicapai oleh siswa. 
  • Tujuan Instruksional Khusus (TIK).yang merupakan penjabaran TIU yang menyangkut satu pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu sebagai tujuan pengajaran yang kongkrit dan spesifik, yang dianggap cukup berharga, wajar dan pantas yang dapat direalisasikan dan bertahan lama demi tercapainya tujuan instruksional umum. TIK dapat dibedakn menjadi dua aspek yakni:
- Aspek jenis perilaku yang dituntut oleh siswa.
- Aspek isi yakni aspek terhadap hal yang harus dilakukan.

  Manfaat Tujuan Instruksional
Dalam pembaharuan system pendidikan yang berlaku di Indonesia sekarang ini, setiap guru dituntut untuk mengetahui tujuan pembelajaran dari kegiatannya mengajar dengan titik tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu dalam merancang system belajar yang akan dilakukannya, langkah pertama yang ia lakukan adalah membuat tujuan instruksional. Adapun manfaat tujuan instruksional adalah:
  • Guru mempunyai arah untuk memilih bahan pelajaran dan memilih prosedur (metode) mangajar, 
  • Siswa mengetahui arah belajarnya, 
  • Setiap guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenang mengajarkan suatu bahan sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah (gap) atau saling menutup (overlap) antar guru, 
  • Guru mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa, 
  • Guru sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang kebijaksanaan (decision maker) mempunyai criteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efiensi pengajaran.

Daftar pustaka
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group.



0 komentar on "Proses Kognitif, Motivasi, dan Tujuan Instruksional"

Poskan Komentar