Pages

Jumat, 27 April 2012

Perkembangan Psikososial sepanjang tiga tahun pertama



ISU PERKEMBANGAN PADA MASA BATITA
Kemunculan Pemahaman Diri
Pemahaman diri (self understanding) ialah representasi kognitif diri anak, bahan dan isi konsep diri anak.  William James , pada abad 19 menjelaskan dua diri : I-self dan Me-self . I-self adalah pengertian mengenai sebagai “yang mengenali” dan “yang mengetahui” dirinya sendiri atau disebut juga sebagai aktor. Me-self adalah apa yang diketahui oleh seseorang secara objektif tentang dirinya sendiri.Terdiri atas yang membuat dirinya unik, mencakup karakteristik materi, psikologis, dan sosial.
Konsep diri (self concept) adalah citra kita tentang kita sendiri. Konsep diri merupakan apa yang diyakini oleh i-self tentang me-self yaitu gambaran keseluruhan tentang kemampuan dan sifat kita.
Kemunculan I-self
Kemunculan i-self mulai berkembang sejak kelahiran sampai 15 bulan. Hubungan bayi-pengasuh sangat berpengaruhnya terbentuknya i-self. Sebagai contoh saat bayi yang sedang menyusu ASI akan muncul emosi dari dirinya . Emosi ini terhubung dengan sensorismotorisnya (menghisap)  yang berperan penting dalam perkembangan i-self.
Saat umur 4 sampai 10 bulan ,  ketika bayi dapat meraih, menggenggam , dan melakukan sesuatu bayi mulai mengalami sebagai agency personal, sebuah karkteristik i-self. Dimana self agency adalah mengontrol pikiran dan tindakannya sendiri. Contohnya pada saat bayi menyenggol mainan mobil dan mainan  tersebut bergerak,maka bayi merasa dapat menggerakkan mobil (“Saya bisa menggerakkan mobil”). Menurut Bandura seiring dengan berkembangnya agency personal muncullah sel efficacy. Self efficacy adalah keyakinan akan kemampuan untuk menghadapi tantangan yang ada dan mencapai target. Contoh saat bayi merasa dia bisa menggerakkan mainan mobilnya, ia akan berusaha menggerakkan mobil tersebut sampai tempat yang diinginkannya. Pada saat ini , bayi juga akan mengembangkan koherensi diri (self coherence) dimana koherensi diri adalah perasaan menjadi sebuah kesatuan fisik dengan dibatasi oleh keadaan lahiriah/kenyataan dimana agency tersebut berada.
Antara umur 10-15 bulan , seorang bayi mulai menyadari bahwa apa yang mereka rasakan dapat dibagi bersama orang lain. Contohnya saat bayi menggerakkan mobilnya,bayi akan melihat wajah ayahnya untuk melihat apakah tidak masalah jika ia menggerakkan mainan mobilnya.
Kemunculan Me Self
Kemunculan me-self mulai berkembang pada umur 15 sampai 30 bulan. Kemunculan me-self ini juga dapat dikatakan kesadaran diri akan perbedaan dirinya dengan orang lain dan dapat diidentifikasi. Diskriminasi perceptual merupakan pondasi awal Me-self. Kesadaran diri konseptual yang berkembang antar 15-18 bulan .
Dalam suatu riset, peneliti memoleskan lipstik pada hidung bayi berusia 6-24 bulan, kemudian peneliti meletakkan mereka di depan cermin. Anak yang berusia 18 bulan menyadari ada sesuatu pada hidungnya sedangkan bayi yang berusia kurang dari 15 bulan tidak menyadari bahwa di hidunya ada sesuatu.  Perilaku tersebut menandakan bahwa bayi yang umur lebih tua lebih menyadari akan keadaan dirinya.
Pada usia 20 sampai 24 bulan , bayi menggunakan kata ganti untuk menyatakan dirinya dan orang lain seperti aku dan kamu. Setelah mengenal konsep diri, anak akan mulai mengaplikasi gambaran  dirinya (rambut keriting, rambut lurus) dan evaluatif ( bagus , cantik, jelek) kepada diri mereka. Pada umur 19 sampai 30 bulan, mereka sudah dapat menggambarkan diri mereka dan memasukkan deksripsi verbal orang tua mereka (kamu cantik sekali) ke dalam citra mereka sendiri. Evaluasi diri dan evaluasi oleh orang lain merupakan langkah menuju perkembangan kesadaran.
Development of Autonomy
            Erikson (1950) mengidentifikasi periode sejak balita berusia 18 bulan hingga 3 tahun sebagai tahap kedua dari perkembangan kepribadian yaitu autonomy versus shame and doubt, yang ditandai oleh pergeseran kontrol eksternal menjadi self-control. Rasa percaya dan munculnya kesadaran diri terjadi di dalam tahap ini. Virtue (keutamaan) yang muncul selama tahap ini adalah will. Toilet training sudah dapat dilakukan oleh kebanyakan balita hingga berusia 27 bulan (Blum, Taubman, & Nemeth, 2003). Ini merupakan langkah yang penting terhadap otonomi dan kontrol diri pada anak. Begitu pula dengan bahasa; semakin baik anak dalam mengungkapkan keinginannya, mereka akan semakin kuat. Rasa malu dan ragu akan muncul jika anak mendapatkan kebebasan yang terbatas.
            Di Amerika Serikat, terdapat istilah “terrible twos” yang merupakan manifestasi dari keinginan otonomi. Balita dites dengan menanamkan ide pada mereka bahwa mereka adalah seorang individu, memiliki kendali dalam dunia mereka, dan mereka mempunyai kekuatan baru. Mereka diarahkan untuk mengeluarkan ide, melatih kemampuan mereka, dan membuat keputusannya sendiri. Pengarahan ini menunjukkan sisi negativism, kecenderungan untuk berteriak “Tidak!”. Hampir semua anak di Amerika Serikat menunjukkan negativism dalam berbagai tingkat; hal ini biasanya dimulai sebelun usia 2 tahun, cenderung meningkat sekitar usia 3,5 sampai 4 tahun, dan mulai menurun di usia 6 tahun. Pengasuh melihat ekspresi anak atas keinginannya sebagai hal yang normal, dorongan yang sehat mandiri, bukan sebagai anak yang nakal, dapat membantu mereka untuk mempelajari pengendalian diri, berkontribusi terhadap kompetensi diri mereka, dan dapat menghindari konflik.
            Banyak orang tua di Amerika Serikat yang terkejut mengetahui bahwa “terrible twos” bukanlah hal yang universal. Pada beberapa negara berkembang, transisi dari balita ke anak-anak awal relatif berjalan dengan halus dan harmoni (Mosier & Rogoff, 2003)
SOSIALISASI DAN INTERNALISASI
Sosialisasi adalah proses dimana anak mengembangkan kebiasaan, keterampilan, nilai, dan motivasi yang menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan produktif. Proses sosialisasi bergantung pada proses internalisasi, yaitu proses anak menerima tindakan standard masyarakat sebagai standard dirinya juga. Anak yang berhasil bersosialisasi tidak lagi hanya mematuhi perintah atau peraturan untuk mendapat imbalan atau menghindari hukuman, tetapi sebagai kewajiban diri sebagai anggota masyarakat.
Self-regulation, kendali terhadap perilaku diri sendiri untuk melakukan penyesuaian terhadap permintaan atau harapan pengasuh, bahkan di saat pengasuh tidak ada, merupakan dasar sosialisasi. Tentunya, regulasi diri ini membutuhkan orang dewasa sebagai peringatan. Misalnya, seorang anak yang akan memasukkan tangannya di kontak listrik dan ayahnya berteriak,”Jangan!”, maka anak itu akan menarik tangannya. Di suatu waktu berikutnya, saat ia akan melakukan hal yang sama, ia akan mencegah dirinya sendiri berdasarkan ingatannya terhadap larangan ayahnya.
Nurani adalah suatu standar internal tingkah laku untuk mengendalikan perilaku dan akan menghasilkan ketidaknyamanan emosional ketika dilanggar. Nuarnin bergantung pada keinginan untuk berbuat hal yang benar, bukan karena orang lain mengatakan demikian.
Ada dua jenis kepatuhan, yaitu :
·         Kepatuhan Berkomitmen (Commited Compliance), apabila anak secara sukarela melaksanakan perintah, tanpa diingatkan atau salah
·         Kepatuhan Situasional (Situational Compliance), apabila anak melakukan perintah karena diingatkan ataupun kendali yang sedang berlangsung
 HUBUNGAN DENGAN ANAK-ANAK LAIN
Walaupun orang tua dan pengasuh memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan anak, berhubungan dengan anak lain, baik di dalam ataupun di luar rumah, penting dilakukan sejak  masa bayi dan seterusnya.
SAUDARA KANDUNG
Saat bayi mulai aktif dan menjadi makin asertif, mau tidak mau bayi menghadapi konflik dengan saudara-saudaranya. Konflik saudara kandung akan lebih meningkat drastic setelah anak yang lebih muda menginjak usia 18 bulan. Pada bulan-bulan berikutnya, adik mulai berpartisipasi dalam berbagai interaksi keluarga. Dengan demikian, anak akan semakin awas terhadap niat dan perasaan anggota keluarganya. Anak mulai mengenali perilaku yang mengganggu atau membuat kesal serta perilaku yang dianggap nakal.
Namun begitupun, konflik yang terjadi antara saudara kandung cenderung lebih konstruktif membantu anak untuk mengenal kebutuhan, keinginan, dan sudut pandang masing-masing, serta membantu anak untuk belajar berjuang, berselisih paham, dan berkompromi.
NONSAUDARA KANDUNG
Bayi dan anak menunjukkan rasa ingin tahu terhadap oang luar rumah, terutama orang-orang yang seukuran dengan diri mereka. Pada beberapa bulan pertama, mereka melihat, tersenyum, dan menggumam dengan bayi lain. Pada paruh akhir tahun pertama, mereka makin sering tersenyum, menyentuh, dan berceloteh dengan sesama. Pada usia 1 tahun, dimana agenda utama mereka adalah belajar berjalan, para bayi tidak terlalu memedulikan orang lain. Sejak usia 1,5-3 tahun, anak-anak menunjukkan rasa ingin tahu yang meningkat terhadap apa yang dilakukan anak lain.
Balita belajar dengan saling meniru. Konflik yang terjadi dengan nonsaudara kandung juga bertujuan untuk membantu anak belajar tentang cara bernegosiasi dan menyelesaikan pertengkaran.


ANAK DENGAN ORANG TUA BEKERJA
Sebuah analisis data The National Longitudinal Survey of Youth (NYLS) menemukan sedikit atau tidak ada efek dari ibu bekerja terhadap kepatuhan anak, masalah perilaku, harga diri, perkembangan kognitif dan prestasi akademis. Ibu bekerja terlihat lebih menguntungkan keluarga yang berpenghasilan rendah dengan cara meningkatkan pemasukan keluarga.
Di pihak lain, data longitudinal yang meneliti anak dengan ibu bekerja, menunjukkan adanya efek negative terhadap perkembangan kognitif di usia 15 bulan hingga 3 tahun di saat ibu bekerja 30 jam atau lebih per minggu. Sensitivitas maternal, kualitas lingkungan rumah, dan kualitas pengasuhan anak merupakan beberapa dampak dari pekerjaan orang tua.
Meningkatnya jumlah ibu bekerja pada masa ini membuat banyak ibu memercayakan pengasuhan anaknya di penitipan anak. Baik keluarga dan pengaturan penitipan anak akan secara langsung memengaruhi anak.
Dampak penitipan anak secara dini bergantung pada jenis, jumlah, kualitas, dan stabilitas pengasuha, serta penghasilan keluarga dan usia anak saat mendapatkan pengasuhan nonmaternal. Seorang anak yang pemalu dan memiliki pola nonsecure attachment cenderung lebih stress di tempat penitipan dan kesulitan bersosialisasi.
Elemen terpenting kualitas pengasuhan tempat penitipan anak adalah pengasuh. Bayi butuh pengasuhan yang konsisten untuk mengembangkan rasa percaya dan kelekatan yang aman. Stabilitas pengasuhan memfasilitasi koordinasi antara orang tua dan pemberi layaan penitipan anal, yang dapat membantu melindungi dari pengaruh negative berkepanjangan. Semakin sering anak diasuh bukan oleh ibunya, maka akan semakin besar pula risiko masalah tingkah laku yang dimiliki anak tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Papalia & Olds.2004.Human Development.New York : McGraw-Hill Book Co.
Santrock., J.W. 2009.Life Span Development(12th Ed) .New York : McGraw-Hill Book Co.
Papalia & Olds.2009.Perkembangan Manusia(10th Ed).Jakarta : Salemba Humanika.





0 komentar:

Poskan Komentar

Jumat, 27 April 2012

Perkembangan Psikososial sepanjang tiga tahun pertama

Diposkan oleh Hikmah Nasution di 18.40


ISU PERKEMBANGAN PADA MASA BATITA
Kemunculan Pemahaman Diri
Pemahaman diri (self understanding) ialah representasi kognitif diri anak, bahan dan isi konsep diri anak.  William James , pada abad 19 menjelaskan dua diri : I-self dan Me-self . I-self adalah pengertian mengenai sebagai “yang mengenali” dan “yang mengetahui” dirinya sendiri atau disebut juga sebagai aktor. Me-self adalah apa yang diketahui oleh seseorang secara objektif tentang dirinya sendiri.Terdiri atas yang membuat dirinya unik, mencakup karakteristik materi, psikologis, dan sosial.
Konsep diri (self concept) adalah citra kita tentang kita sendiri. Konsep diri merupakan apa yang diyakini oleh i-self tentang me-self yaitu gambaran keseluruhan tentang kemampuan dan sifat kita.
Kemunculan I-self
Kemunculan i-self mulai berkembang sejak kelahiran sampai 15 bulan. Hubungan bayi-pengasuh sangat berpengaruhnya terbentuknya i-self. Sebagai contoh saat bayi yang sedang menyusu ASI akan muncul emosi dari dirinya . Emosi ini terhubung dengan sensorismotorisnya (menghisap)  yang berperan penting dalam perkembangan i-self.
Saat umur 4 sampai 10 bulan ,  ketika bayi dapat meraih, menggenggam , dan melakukan sesuatu bayi mulai mengalami sebagai agency personal, sebuah karkteristik i-self. Dimana self agency adalah mengontrol pikiran dan tindakannya sendiri. Contohnya pada saat bayi menyenggol mainan mobil dan mainan  tersebut bergerak,maka bayi merasa dapat menggerakkan mobil (“Saya bisa menggerakkan mobil”). Menurut Bandura seiring dengan berkembangnya agency personal muncullah sel efficacy. Self efficacy adalah keyakinan akan kemampuan untuk menghadapi tantangan yang ada dan mencapai target. Contoh saat bayi merasa dia bisa menggerakkan mainan mobilnya, ia akan berusaha menggerakkan mobil tersebut sampai tempat yang diinginkannya. Pada saat ini , bayi juga akan mengembangkan koherensi diri (self coherence) dimana koherensi diri adalah perasaan menjadi sebuah kesatuan fisik dengan dibatasi oleh keadaan lahiriah/kenyataan dimana agency tersebut berada.
Antara umur 10-15 bulan , seorang bayi mulai menyadari bahwa apa yang mereka rasakan dapat dibagi bersama orang lain. Contohnya saat bayi menggerakkan mobilnya,bayi akan melihat wajah ayahnya untuk melihat apakah tidak masalah jika ia menggerakkan mainan mobilnya.
Kemunculan Me Self
Kemunculan me-self mulai berkembang pada umur 15 sampai 30 bulan. Kemunculan me-self ini juga dapat dikatakan kesadaran diri akan perbedaan dirinya dengan orang lain dan dapat diidentifikasi. Diskriminasi perceptual merupakan pondasi awal Me-self. Kesadaran diri konseptual yang berkembang antar 15-18 bulan .
Dalam suatu riset, peneliti memoleskan lipstik pada hidung bayi berusia 6-24 bulan, kemudian peneliti meletakkan mereka di depan cermin. Anak yang berusia 18 bulan menyadari ada sesuatu pada hidungnya sedangkan bayi yang berusia kurang dari 15 bulan tidak menyadari bahwa di hidunya ada sesuatu.  Perilaku tersebut menandakan bahwa bayi yang umur lebih tua lebih menyadari akan keadaan dirinya.
Pada usia 20 sampai 24 bulan , bayi menggunakan kata ganti untuk menyatakan dirinya dan orang lain seperti aku dan kamu. Setelah mengenal konsep diri, anak akan mulai mengaplikasi gambaran  dirinya (rambut keriting, rambut lurus) dan evaluatif ( bagus , cantik, jelek) kepada diri mereka. Pada umur 19 sampai 30 bulan, mereka sudah dapat menggambarkan diri mereka dan memasukkan deksripsi verbal orang tua mereka (kamu cantik sekali) ke dalam citra mereka sendiri. Evaluasi diri dan evaluasi oleh orang lain merupakan langkah menuju perkembangan kesadaran.
Development of Autonomy
            Erikson (1950) mengidentifikasi periode sejak balita berusia 18 bulan hingga 3 tahun sebagai tahap kedua dari perkembangan kepribadian yaitu autonomy versus shame and doubt, yang ditandai oleh pergeseran kontrol eksternal menjadi self-control. Rasa percaya dan munculnya kesadaran diri terjadi di dalam tahap ini. Virtue (keutamaan) yang muncul selama tahap ini adalah will. Toilet training sudah dapat dilakukan oleh kebanyakan balita hingga berusia 27 bulan (Blum, Taubman, & Nemeth, 2003). Ini merupakan langkah yang penting terhadap otonomi dan kontrol diri pada anak. Begitu pula dengan bahasa; semakin baik anak dalam mengungkapkan keinginannya, mereka akan semakin kuat. Rasa malu dan ragu akan muncul jika anak mendapatkan kebebasan yang terbatas.
            Di Amerika Serikat, terdapat istilah “terrible twos” yang merupakan manifestasi dari keinginan otonomi. Balita dites dengan menanamkan ide pada mereka bahwa mereka adalah seorang individu, memiliki kendali dalam dunia mereka, dan mereka mempunyai kekuatan baru. Mereka diarahkan untuk mengeluarkan ide, melatih kemampuan mereka, dan membuat keputusannya sendiri. Pengarahan ini menunjukkan sisi negativism, kecenderungan untuk berteriak “Tidak!”. Hampir semua anak di Amerika Serikat menunjukkan negativism dalam berbagai tingkat; hal ini biasanya dimulai sebelun usia 2 tahun, cenderung meningkat sekitar usia 3,5 sampai 4 tahun, dan mulai menurun di usia 6 tahun. Pengasuh melihat ekspresi anak atas keinginannya sebagai hal yang normal, dorongan yang sehat mandiri, bukan sebagai anak yang nakal, dapat membantu mereka untuk mempelajari pengendalian diri, berkontribusi terhadap kompetensi diri mereka, dan dapat menghindari konflik.
            Banyak orang tua di Amerika Serikat yang terkejut mengetahui bahwa “terrible twos” bukanlah hal yang universal. Pada beberapa negara berkembang, transisi dari balita ke anak-anak awal relatif berjalan dengan halus dan harmoni (Mosier & Rogoff, 2003)
SOSIALISASI DAN INTERNALISASI
Sosialisasi adalah proses dimana anak mengembangkan kebiasaan, keterampilan, nilai, dan motivasi yang menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan produktif. Proses sosialisasi bergantung pada proses internalisasi, yaitu proses anak menerima tindakan standard masyarakat sebagai standard dirinya juga. Anak yang berhasil bersosialisasi tidak lagi hanya mematuhi perintah atau peraturan untuk mendapat imbalan atau menghindari hukuman, tetapi sebagai kewajiban diri sebagai anggota masyarakat.
Self-regulation, kendali terhadap perilaku diri sendiri untuk melakukan penyesuaian terhadap permintaan atau harapan pengasuh, bahkan di saat pengasuh tidak ada, merupakan dasar sosialisasi. Tentunya, regulasi diri ini membutuhkan orang dewasa sebagai peringatan. Misalnya, seorang anak yang akan memasukkan tangannya di kontak listrik dan ayahnya berteriak,”Jangan!”, maka anak itu akan menarik tangannya. Di suatu waktu berikutnya, saat ia akan melakukan hal yang sama, ia akan mencegah dirinya sendiri berdasarkan ingatannya terhadap larangan ayahnya.
Nurani adalah suatu standar internal tingkah laku untuk mengendalikan perilaku dan akan menghasilkan ketidaknyamanan emosional ketika dilanggar. Nuarnin bergantung pada keinginan untuk berbuat hal yang benar, bukan karena orang lain mengatakan demikian.
Ada dua jenis kepatuhan, yaitu :
·         Kepatuhan Berkomitmen (Commited Compliance), apabila anak secara sukarela melaksanakan perintah, tanpa diingatkan atau salah
·         Kepatuhan Situasional (Situational Compliance), apabila anak melakukan perintah karena diingatkan ataupun kendali yang sedang berlangsung
 HUBUNGAN DENGAN ANAK-ANAK LAIN
Walaupun orang tua dan pengasuh memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan anak, berhubungan dengan anak lain, baik di dalam ataupun di luar rumah, penting dilakukan sejak  masa bayi dan seterusnya.
SAUDARA KANDUNG
Saat bayi mulai aktif dan menjadi makin asertif, mau tidak mau bayi menghadapi konflik dengan saudara-saudaranya. Konflik saudara kandung akan lebih meningkat drastic setelah anak yang lebih muda menginjak usia 18 bulan. Pada bulan-bulan berikutnya, adik mulai berpartisipasi dalam berbagai interaksi keluarga. Dengan demikian, anak akan semakin awas terhadap niat dan perasaan anggota keluarganya. Anak mulai mengenali perilaku yang mengganggu atau membuat kesal serta perilaku yang dianggap nakal.
Namun begitupun, konflik yang terjadi antara saudara kandung cenderung lebih konstruktif membantu anak untuk mengenal kebutuhan, keinginan, dan sudut pandang masing-masing, serta membantu anak untuk belajar berjuang, berselisih paham, dan berkompromi.
NONSAUDARA KANDUNG
Bayi dan anak menunjukkan rasa ingin tahu terhadap oang luar rumah, terutama orang-orang yang seukuran dengan diri mereka. Pada beberapa bulan pertama, mereka melihat, tersenyum, dan menggumam dengan bayi lain. Pada paruh akhir tahun pertama, mereka makin sering tersenyum, menyentuh, dan berceloteh dengan sesama. Pada usia 1 tahun, dimana agenda utama mereka adalah belajar berjalan, para bayi tidak terlalu memedulikan orang lain. Sejak usia 1,5-3 tahun, anak-anak menunjukkan rasa ingin tahu yang meningkat terhadap apa yang dilakukan anak lain.
Balita belajar dengan saling meniru. Konflik yang terjadi dengan nonsaudara kandung juga bertujuan untuk membantu anak belajar tentang cara bernegosiasi dan menyelesaikan pertengkaran.


ANAK DENGAN ORANG TUA BEKERJA
Sebuah analisis data The National Longitudinal Survey of Youth (NYLS) menemukan sedikit atau tidak ada efek dari ibu bekerja terhadap kepatuhan anak, masalah perilaku, harga diri, perkembangan kognitif dan prestasi akademis. Ibu bekerja terlihat lebih menguntungkan keluarga yang berpenghasilan rendah dengan cara meningkatkan pemasukan keluarga.
Di pihak lain, data longitudinal yang meneliti anak dengan ibu bekerja, menunjukkan adanya efek negative terhadap perkembangan kognitif di usia 15 bulan hingga 3 tahun di saat ibu bekerja 30 jam atau lebih per minggu. Sensitivitas maternal, kualitas lingkungan rumah, dan kualitas pengasuhan anak merupakan beberapa dampak dari pekerjaan orang tua.
Meningkatnya jumlah ibu bekerja pada masa ini membuat banyak ibu memercayakan pengasuhan anaknya di penitipan anak. Baik keluarga dan pengaturan penitipan anak akan secara langsung memengaruhi anak.
Dampak penitipan anak secara dini bergantung pada jenis, jumlah, kualitas, dan stabilitas pengasuha, serta penghasilan keluarga dan usia anak saat mendapatkan pengasuhan nonmaternal. Seorang anak yang pemalu dan memiliki pola nonsecure attachment cenderung lebih stress di tempat penitipan dan kesulitan bersosialisasi.
Elemen terpenting kualitas pengasuhan tempat penitipan anak adalah pengasuh. Bayi butuh pengasuhan yang konsisten untuk mengembangkan rasa percaya dan kelekatan yang aman. Stabilitas pengasuhan memfasilitasi koordinasi antara orang tua dan pemberi layaan penitipan anal, yang dapat membantu melindungi dari pengaruh negative berkepanjangan. Semakin sering anak diasuh bukan oleh ibunya, maka akan semakin besar pula risiko masalah tingkah laku yang dimiliki anak tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Papalia & Olds.2004.Human Development.New York : McGraw-Hill Book Co.
Santrock., J.W. 2009.Life Span Development(12th Ed) .New York : McGraw-Hill Book Co.
Papalia & Olds.2009.Perkembangan Manusia(10th Ed).Jakarta : Salemba Humanika.





0 komentar on "Perkembangan Psikososial sepanjang tiga tahun pertama"

Poskan Komentar