Pages

Jumat, 27 April 2012

Bimbingan dan Konseling





Pengertian Bimbingan dan Konseling

1. Defenisi Bimbingan

Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan dan konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan.
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.

2. Defenisi Konseling

Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.
Dari semua pendapat di atas dapat dirumuskan dengan singkat bahwa Bimbingan dan konseling  adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.


Fungsi layanan bimbingan dan konseling
  • fungsi preventif
Memberikan Layanan orien-tasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah
  • fungsi pengembangan
Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembagannya
  • fungsi kuratif
Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi,sosial, belajar,atau karir)


Jenis – jenis Bimbingan dan Konseling

Bimbingan akademik

Bertujuan:
  1. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
  2. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
  3. Memiliki keterampilan belajar yang efektif.
  4. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar/pendidikan.
  5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
  6. Memiliki keterampilan membaca buku.

Bimbingan pribadi/social

Bertujuan:
  1. Mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME.
  2. Memiliki pemahaman ttg irama kehidupan yg bersifat fluktuatif (antara anugrah dan musibah) dan mampu meresponnya dg positif.
  3. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif
  4. Memiliki sikap respek thd diri sendiri
  5. Dapat mengelola stress
  6. Mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang diharamkan agama
  7. Memahami perasaan diri dan mampu mengekspresikannya secara wajar
  8. Memiliki kemampuan memecahkan masalh
  9. Memiliki rasa percaya diri
  10. Memiliki mental yang sehat

Bimbingan karier

Bertujuan:
  1. Memiliki pemahaman tentang sekolah-sekolah lanjutan.
  2. Memiliki pemahaman bahwa studi merupakan investasi untuk meraih masa depan.
  3. Memiliki pemahaman tentang kaitan belajar dengan bekerja.
  4. Memiliki pemahaman tentang minat dan kemampuan diri yang terkait dengan pekerjaan.
  5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir.
  6. Memiliki sikap positif terhadap pekerjaan.
  7. Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan.
  8. Memiliki kemauan untuk meningkatkan kemampuan yang terkait dg pekerjaan.

Bimbingan keluarga

Bertujuan:
  1. Memiliki sikap pemimpin dalam keluarga
  2. Mampu memberdayakan diri secara produktif
  3. Mampu menyesuaikan diri dengan norma yang ada dalam keluarga
  4. Mampu berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.

Tujuan diberikannya layanan Bimbingan dan Konseling
  1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
  2. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko.
  3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
  4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif.
  5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalamberinteraksi dengan orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial
  7. Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif
  8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif.
  9. Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai, dan kompetensi yang mendukung pilihan karir.
  10. Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat.

Perkembangan Psikososial sepanjang tiga tahun pertama



ISU PERKEMBANGAN PADA MASA BATITA
Kemunculan Pemahaman Diri
Pemahaman diri (self understanding) ialah representasi kognitif diri anak, bahan dan isi konsep diri anak.  William James , pada abad 19 menjelaskan dua diri : I-self dan Me-self . I-self adalah pengertian mengenai sebagai “yang mengenali” dan “yang mengetahui” dirinya sendiri atau disebut juga sebagai aktor. Me-self adalah apa yang diketahui oleh seseorang secara objektif tentang dirinya sendiri.Terdiri atas yang membuat dirinya unik, mencakup karakteristik materi, psikologis, dan sosial.
Konsep diri (self concept) adalah citra kita tentang kita sendiri. Konsep diri merupakan apa yang diyakini oleh i-self tentang me-self yaitu gambaran keseluruhan tentang kemampuan dan sifat kita.
Kemunculan I-self
Kemunculan i-self mulai berkembang sejak kelahiran sampai 15 bulan. Hubungan bayi-pengasuh sangat berpengaruhnya terbentuknya i-self. Sebagai contoh saat bayi yang sedang menyusu ASI akan muncul emosi dari dirinya . Emosi ini terhubung dengan sensorismotorisnya (menghisap)  yang berperan penting dalam perkembangan i-self.
Saat umur 4 sampai 10 bulan ,  ketika bayi dapat meraih, menggenggam , dan melakukan sesuatu bayi mulai mengalami sebagai agency personal, sebuah karkteristik i-self. Dimana self agency adalah mengontrol pikiran dan tindakannya sendiri. Contohnya pada saat bayi menyenggol mainan mobil dan mainan  tersebut bergerak,maka bayi merasa dapat menggerakkan mobil (“Saya bisa menggerakkan mobil”). Menurut Bandura seiring dengan berkembangnya agency personal muncullah sel efficacy. Self efficacy adalah keyakinan akan kemampuan untuk menghadapi tantangan yang ada dan mencapai target. Contoh saat bayi merasa dia bisa menggerakkan mainan mobilnya, ia akan berusaha menggerakkan mobil tersebut sampai tempat yang diinginkannya. Pada saat ini , bayi juga akan mengembangkan koherensi diri (self coherence) dimana koherensi diri adalah perasaan menjadi sebuah kesatuan fisik dengan dibatasi oleh keadaan lahiriah/kenyataan dimana agency tersebut berada.
Antara umur 10-15 bulan , seorang bayi mulai menyadari bahwa apa yang mereka rasakan dapat dibagi bersama orang lain. Contohnya saat bayi menggerakkan mobilnya,bayi akan melihat wajah ayahnya untuk melihat apakah tidak masalah jika ia menggerakkan mainan mobilnya.
Kemunculan Me Self
Kemunculan me-self mulai berkembang pada umur 15 sampai 30 bulan. Kemunculan me-self ini juga dapat dikatakan kesadaran diri akan perbedaan dirinya dengan orang lain dan dapat diidentifikasi. Diskriminasi perceptual merupakan pondasi awal Me-self. Kesadaran diri konseptual yang berkembang antar 15-18 bulan .
Dalam suatu riset, peneliti memoleskan lipstik pada hidung bayi berusia 6-24 bulan, kemudian peneliti meletakkan mereka di depan cermin. Anak yang berusia 18 bulan menyadari ada sesuatu pada hidungnya sedangkan bayi yang berusia kurang dari 15 bulan tidak menyadari bahwa di hidunya ada sesuatu.  Perilaku tersebut menandakan bahwa bayi yang umur lebih tua lebih menyadari akan keadaan dirinya.
Pada usia 20 sampai 24 bulan , bayi menggunakan kata ganti untuk menyatakan dirinya dan orang lain seperti aku dan kamu. Setelah mengenal konsep diri, anak akan mulai mengaplikasi gambaran  dirinya (rambut keriting, rambut lurus) dan evaluatif ( bagus , cantik, jelek) kepada diri mereka. Pada umur 19 sampai 30 bulan, mereka sudah dapat menggambarkan diri mereka dan memasukkan deksripsi verbal orang tua mereka (kamu cantik sekali) ke dalam citra mereka sendiri. Evaluasi diri dan evaluasi oleh orang lain merupakan langkah menuju perkembangan kesadaran.
Development of Autonomy
            Erikson (1950) mengidentifikasi periode sejak balita berusia 18 bulan hingga 3 tahun sebagai tahap kedua dari perkembangan kepribadian yaitu autonomy versus shame and doubt, yang ditandai oleh pergeseran kontrol eksternal menjadi self-control. Rasa percaya dan munculnya kesadaran diri terjadi di dalam tahap ini. Virtue (keutamaan) yang muncul selama tahap ini adalah will. Toilet training sudah dapat dilakukan oleh kebanyakan balita hingga berusia 27 bulan (Blum, Taubman, & Nemeth, 2003). Ini merupakan langkah yang penting terhadap otonomi dan kontrol diri pada anak. Begitu pula dengan bahasa; semakin baik anak dalam mengungkapkan keinginannya, mereka akan semakin kuat. Rasa malu dan ragu akan muncul jika anak mendapatkan kebebasan yang terbatas.
            Di Amerika Serikat, terdapat istilah “terrible twos” yang merupakan manifestasi dari keinginan otonomi. Balita dites dengan menanamkan ide pada mereka bahwa mereka adalah seorang individu, memiliki kendali dalam dunia mereka, dan mereka mempunyai kekuatan baru. Mereka diarahkan untuk mengeluarkan ide, melatih kemampuan mereka, dan membuat keputusannya sendiri. Pengarahan ini menunjukkan sisi negativism, kecenderungan untuk berteriak “Tidak!”. Hampir semua anak di Amerika Serikat menunjukkan negativism dalam berbagai tingkat; hal ini biasanya dimulai sebelun usia 2 tahun, cenderung meningkat sekitar usia 3,5 sampai 4 tahun, dan mulai menurun di usia 6 tahun. Pengasuh melihat ekspresi anak atas keinginannya sebagai hal yang normal, dorongan yang sehat mandiri, bukan sebagai anak yang nakal, dapat membantu mereka untuk mempelajari pengendalian diri, berkontribusi terhadap kompetensi diri mereka, dan dapat menghindari konflik.
            Banyak orang tua di Amerika Serikat yang terkejut mengetahui bahwa “terrible twos” bukanlah hal yang universal. Pada beberapa negara berkembang, transisi dari balita ke anak-anak awal relatif berjalan dengan halus dan harmoni (Mosier & Rogoff, 2003)
SOSIALISASI DAN INTERNALISASI
Sosialisasi adalah proses dimana anak mengembangkan kebiasaan, keterampilan, nilai, dan motivasi yang menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan produktif. Proses sosialisasi bergantung pada proses internalisasi, yaitu proses anak menerima tindakan standard masyarakat sebagai standard dirinya juga. Anak yang berhasil bersosialisasi tidak lagi hanya mematuhi perintah atau peraturan untuk mendapat imbalan atau menghindari hukuman, tetapi sebagai kewajiban diri sebagai anggota masyarakat.
Self-regulation, kendali terhadap perilaku diri sendiri untuk melakukan penyesuaian terhadap permintaan atau harapan pengasuh, bahkan di saat pengasuh tidak ada, merupakan dasar sosialisasi. Tentunya, regulasi diri ini membutuhkan orang dewasa sebagai peringatan. Misalnya, seorang anak yang akan memasukkan tangannya di kontak listrik dan ayahnya berteriak,”Jangan!”, maka anak itu akan menarik tangannya. Di suatu waktu berikutnya, saat ia akan melakukan hal yang sama, ia akan mencegah dirinya sendiri berdasarkan ingatannya terhadap larangan ayahnya.
Nurani adalah suatu standar internal tingkah laku untuk mengendalikan perilaku dan akan menghasilkan ketidaknyamanan emosional ketika dilanggar. Nuarnin bergantung pada keinginan untuk berbuat hal yang benar, bukan karena orang lain mengatakan demikian.
Ada dua jenis kepatuhan, yaitu :
·         Kepatuhan Berkomitmen (Commited Compliance), apabila anak secara sukarela melaksanakan perintah, tanpa diingatkan atau salah
·         Kepatuhan Situasional (Situational Compliance), apabila anak melakukan perintah karena diingatkan ataupun kendali yang sedang berlangsung
 HUBUNGAN DENGAN ANAK-ANAK LAIN
Walaupun orang tua dan pengasuh memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan anak, berhubungan dengan anak lain, baik di dalam ataupun di luar rumah, penting dilakukan sejak  masa bayi dan seterusnya.
SAUDARA KANDUNG
Saat bayi mulai aktif dan menjadi makin asertif, mau tidak mau bayi menghadapi konflik dengan saudara-saudaranya. Konflik saudara kandung akan lebih meningkat drastic setelah anak yang lebih muda menginjak usia 18 bulan. Pada bulan-bulan berikutnya, adik mulai berpartisipasi dalam berbagai interaksi keluarga. Dengan demikian, anak akan semakin awas terhadap niat dan perasaan anggota keluarganya. Anak mulai mengenali perilaku yang mengganggu atau membuat kesal serta perilaku yang dianggap nakal.
Namun begitupun, konflik yang terjadi antara saudara kandung cenderung lebih konstruktif membantu anak untuk mengenal kebutuhan, keinginan, dan sudut pandang masing-masing, serta membantu anak untuk belajar berjuang, berselisih paham, dan berkompromi.
NONSAUDARA KANDUNG
Bayi dan anak menunjukkan rasa ingin tahu terhadap oang luar rumah, terutama orang-orang yang seukuran dengan diri mereka. Pada beberapa bulan pertama, mereka melihat, tersenyum, dan menggumam dengan bayi lain. Pada paruh akhir tahun pertama, mereka makin sering tersenyum, menyentuh, dan berceloteh dengan sesama. Pada usia 1 tahun, dimana agenda utama mereka adalah belajar berjalan, para bayi tidak terlalu memedulikan orang lain. Sejak usia 1,5-3 tahun, anak-anak menunjukkan rasa ingin tahu yang meningkat terhadap apa yang dilakukan anak lain.
Balita belajar dengan saling meniru. Konflik yang terjadi dengan nonsaudara kandung juga bertujuan untuk membantu anak belajar tentang cara bernegosiasi dan menyelesaikan pertengkaran.


ANAK DENGAN ORANG TUA BEKERJA
Sebuah analisis data The National Longitudinal Survey of Youth (NYLS) menemukan sedikit atau tidak ada efek dari ibu bekerja terhadap kepatuhan anak, masalah perilaku, harga diri, perkembangan kognitif dan prestasi akademis. Ibu bekerja terlihat lebih menguntungkan keluarga yang berpenghasilan rendah dengan cara meningkatkan pemasukan keluarga.
Di pihak lain, data longitudinal yang meneliti anak dengan ibu bekerja, menunjukkan adanya efek negative terhadap perkembangan kognitif di usia 15 bulan hingga 3 tahun di saat ibu bekerja 30 jam atau lebih per minggu. Sensitivitas maternal, kualitas lingkungan rumah, dan kualitas pengasuhan anak merupakan beberapa dampak dari pekerjaan orang tua.
Meningkatnya jumlah ibu bekerja pada masa ini membuat banyak ibu memercayakan pengasuhan anaknya di penitipan anak. Baik keluarga dan pengaturan penitipan anak akan secara langsung memengaruhi anak.
Dampak penitipan anak secara dini bergantung pada jenis, jumlah, kualitas, dan stabilitas pengasuha, serta penghasilan keluarga dan usia anak saat mendapatkan pengasuhan nonmaternal. Seorang anak yang pemalu dan memiliki pola nonsecure attachment cenderung lebih stress di tempat penitipan dan kesulitan bersosialisasi.
Elemen terpenting kualitas pengasuhan tempat penitipan anak adalah pengasuh. Bayi butuh pengasuhan yang konsisten untuk mengembangkan rasa percaya dan kelekatan yang aman. Stabilitas pengasuhan memfasilitasi koordinasi antara orang tua dan pemberi layaan penitipan anal, yang dapat membantu melindungi dari pengaruh negative berkepanjangan. Semakin sering anak diasuh bukan oleh ibunya, maka akan semakin besar pula risiko masalah tingkah laku yang dimiliki anak tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Papalia & Olds.2004.Human Development.New York : McGraw-Hill Book Co.
Santrock., J.W. 2009.Life Span Development(12th Ed) .New York : McGraw-Hill Book Co.
Papalia & Olds.2009.Perkembangan Manusia(10th Ed).Jakarta : Salemba Humanika.





Proses Kognitif, Motivasi, dan Tujuan Instruksional


Kognitif
kognitif adalah, perubahan dalam pemikiran, kecerdasan, dan bahasa. Proses perkembangan kognitif ini memampukan anak untuk mengingat pelajaran dan pengetahuan baru. Menurut Piaget proses perkembangan kognitif pada anak bermula dari sebuah pertanyaan "siapa yang tahu isi dari pikiran anak?" Pada tahap ini anak menggunakan skema dalam memahami dunia mereka, serta bagaimana anak mampu mengasosiasikan dan memahami pemikiran mereka.
Kemampuan bahasa pada anak juga mempengaruhi apakah perkembangan kognitif itu sudah berjalan dengan baik atau tidak.

Proses Kognitif
1.      Pemahaman Konseptual
Pemahaman konseptual adalah kunci dari pembelajaran. Tujuannya untuk membantu anak memahami konsep utama suatu subjek, bukan sekedar mengingat fakta yang terpisah-pisah. Konsep merupakan kategori mengelompokkan objek, kejadian, dan karakteristik berdasarkan properti umum.

2.      Berfikir
Berfikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori. Hal ini sering dilakukan dalam pembentukan konsep, penalaran, berfikir kritis, membuat keputusan, berfikir kreatif, dan memecahkan masalah. Penalaran adalah pemikiran logis menggunakan logika untuk menghasilkan kesimpulan. 

Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Inggris yaitu "Motivation" dengan kata dasar yaitu Motive yang berarti tujuan. Jadi kata motif ini bisa dikatakan sebagai sebab, tujuan, pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang dinginkannya.
Motivasi adalah proses pemberian semangat, arah, dan kegigihan perilaku (perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama). Motivasi ada yang intrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang di dapat dari dalam (diri sendiri), misalnya keinginan untuk berprestasi, untuk membahagiakan orang tua dengan menunjukkan prestasi. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang di dapat dari luar, misalnya dorongan dari orang tua agar anak dapat belajar lebih giat lagi dalam belajar.

Tujuan instruksional
Tujuan Instruksional (Instructional Objectives

  Defenisi Tujuan Instruksional
Materi suatu bidang studi tidak mungkin menjadi milik kita, tanpa dipelajari terlebih dahulu, baik dipelajari sendiri maupun diajarkan oleh guru. Proses atau kegiatan mempelajari materi ini terjadi dalam saat terjadinya situasi belajar mengajar atau pengajaran (instruksional). Dari perkatan pengajaran atau instruksional inilah maka timbul istilah tujuan instruksional merupakan bagaian dari pembelajaran, berbagai defenisi tujuan instruksional disampaikan oleh beberapa tokoh diantanya :
  • Robert F. Mager (1962), tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi tingkat kompetensi tertentu, 
  • Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981), tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang tersamar (covert), 
  • Fred Percival dan Henry Ellington (1984), tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan atauketerampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat sicapai sebagai hasil belajar.
Dari beberapa defenisi diatas maka tujuan instruksional adalah tujuan yang menggambarkan pengethuan, kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur.

Tujuan pengajaran (Instruksional) dikelompokkan menjadi dua yaitu:
  • Tujuan Instruksional Umum (TIU), yang menggariskan hasil-hasil dianeka bidang studi yang harus dicapai oleh siswa. 
  • Tujuan Instruksional Khusus (TIK).yang merupakan penjabaran TIU yang menyangkut satu pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu sebagai tujuan pengajaran yang kongkrit dan spesifik, yang dianggap cukup berharga, wajar dan pantas yang dapat direalisasikan dan bertahan lama demi tercapainya tujuan instruksional umum. TIK dapat dibedakn menjadi dua aspek yakni:
- Aspek jenis perilaku yang dituntut oleh siswa.
- Aspek isi yakni aspek terhadap hal yang harus dilakukan.

  Manfaat Tujuan Instruksional
Dalam pembaharuan system pendidikan yang berlaku di Indonesia sekarang ini, setiap guru dituntut untuk mengetahui tujuan pembelajaran dari kegiatannya mengajar dengan titik tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu dalam merancang system belajar yang akan dilakukannya, langkah pertama yang ia lakukan adalah membuat tujuan instruksional. Adapun manfaat tujuan instruksional adalah:
  • Guru mempunyai arah untuk memilih bahan pelajaran dan memilih prosedur (metode) mangajar, 
  • Siswa mengetahui arah belajarnya, 
  • Setiap guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenang mengajarkan suatu bahan sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah (gap) atau saling menutup (overlap) antar guru, 
  • Guru mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa, 
  • Guru sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang kebijaksanaan (decision maker) mempunyai criteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efiensi pengajaran.

Daftar pustaka
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group.



Perencanaan Mini Proyek

Nama kelompok :



PERAN TEKNOLOGI DALAM DUNIA PERKULIAHAN

BAB 1
PERENCANAAN
1.1 PENDAHULUAN
Pada tugas mini proyek kali ini kami memilih topik : Peran Teknologi Sebagai Media Belajar Pada Mahasiswa Dan berjudul: Peran Teknologi Dalam Dunia Perkuliahan.  Teknologi berasal dari istilah teckne yang berarti seni (art) atau keterampilan. Menurut Dictionary of Science, teknologi adalah penerapan pengetahuan teoritis pada masalah-masalah praktis. Seperti yang kita lihat, Perkembangan teknologi telah memperngaruhi seluruh aspek kehidupan tak terkecuali pendidikan, dewasa ini teknologi sudah berkembang dengan sangat pesat karna teknologi dapat berkembang dalam hitungan detik saja.  Dan tidak dapat dipungkiri kalau teknologi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sekarang ini, sebab teknologi sudah menjadi konsumsi dari berbagai kalangan, tidak luput juga bagi dunia pendidikan. Teknologi bisa menjadi salah satu alternative dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). .
Perkembangan teknologi informasi khususnya komputer banyak mengubah pola hidup dan gaya hidup secara global. Dan dengan sendirinya berubah pula kebiasaan, baik dalam bergaul, berteman, dalam lingkungan kerja, sekolah maupun dalam keluarga. Hal ini sangat dirasakan dampaknya dimana tingkah laku dan kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah terjadi kini dapat kita baca di media masa, kita tonton melalui layar TV dan kita saksikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Tidak sampai disitu, dalam dunia pendidikan misalnya, pola dan gaya hidup ini sudah dapat kita rasakan dalam pergaulan anak didik kita, yang tadinya pendiam kini berubah jadi periang, yang tadinya pemalu kini berubah menjadi pemberani dan seterusnya. Ini berarti kebiasaan dan gaya hidup siswa sudah mulai berubah. Hal ini bisa berdampak positif dan bisa juga berdampak negatif tergantung bagaimana kita mengarahkannya.Peran Teknologi InformasiPenggunaan teknologi informasi khususnya komputer kini sudah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga ke sekolah lanjutan atas dan sekolah kejuruan. Namun demikian yang paling besar pengaruhnya adalah di Perguruan Tinggi, di mana hampir semua perguruan tinggi di Indonesia sudah memanfaatkan teknologi ini dalam perkuliahannya, baik melalui tatap muka maupun secara online. Sebagai contoh seorang dosen dalam menyampaikan materinya tidak hanya mengandalkan media konvensional saja, melainkan sudah menggunakan unsur teknologi di dalamnya. Biasanya seorang dosen atau guru di PT tertentu dalam menyampaikan materi kuliah ditampilkan dalam bentuk slide presentasi dengan bantuan komputer. Dengan teknologi ini mahasiswa atau siswa bisa mengikuti matakuliah dengan baik, karena materi yang disampaikan selain mengandung materi yang berbobot juga mengandung unsur multimedia yang bisa menghibur.Di mana dengan bantuan komputer yang dihubungkan dengan multimedia projector seorang dosen tidak perlu menekan tombol keyboard atau papan ketik melainkan cukup menekan remote control yang dipegangnya.
Di negara maju dan di beberapa negara berkembang dimana tingkat pendidikannya sudah bisa dikatakan cukup baik, penerapan teknologi tinggi ini sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Sementara di Indonesia baru beberapa tahun saja sejak teknologi jaringan mulai dikenal dan diterapkan sebagai salah satu materi pelajaran di sekolah menengah kejuruan (SMK) beberapa tahun lalu dan untuk Sekolah Lanjutan Atas dengan masuknya kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dengan teknologi ini seorang dosen atau guru dalam menyampaikan materinya tidak hanya dalam bentuk tatap muka saja melainkan sudah menggunakan berbagai media komunikasi yang dipadukan dengan teknologi networking, misalnya Intranet dan Internet.
1.2 LANDASAN TEORI
Pada proyek kali ini kami menggunakan  teori dari hubungan teknologi dan pendidikan, ubiquitous computing, teori  motivasi dan teori belajar.
Teknologi merupakan bagian dari pendidikan dan sebagai sarana untuk mendapatkan pendidikan , informasi atau pengetahuan. Teknologi dan pendidikan saling berhubungan. Pada zaman sekarang ini, pendidikan sangat diharuskan untuk didampingi oleh teknologi, dikarnakan dalam penelitian oleh National Assesment of Educational Progress (NAEP), murid di grade 4, 8, dan 12 yang menggunakan internet dirumah mendapatkan nilai sains yang lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak menggunakan internet. Selain internet, teknologi yang lain yang sekarang lazim dilihat pada kebanyakan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi seperti laptop atau computer, lab, dan sebagainya merupakan componen-komponen yang wajib ada disekolah atau perguruan tinggi karena ini merupakan hal yang penting.
Adapun teori lain yang berhubungan dengan peran teknologi yaitu Ubiquitous computing . Ubiquitous computing adalah generasi computer yang akan datang, dimana generasi ini menekankan distribusi computer kelingkungan , ketimbang ke personal. Dalam lingkungan ini teknologi akan menjadi latar belakang pada zaman sekarang, kita mulai memasuki zaman ubiquitous computing yang mana sudah banyak terdapat perangkat computer yang kecil, portable, mobile dan harganya murah yang telah menggantikan computer pribadi pada generasi kedua ubiquitous adalah kebalikan dari realitas virtual. Jika realita virtual menempatkan orang didalam dunia yang diciptakan computer. Ubiquitous computing akan memaksa computer eksis didunia manusia. Perangkat computer ini lebih cocok untuk pendidikan karena dipasangkan dengan jaringan murah, dapat memampukan murid untuk membawa perangkat informasi personal kelapangan untuk membantu mengerjakan suatu tugas dan bias dibawa pulang dan dapat digunakan tanpa dibatasi lokasi.
Teori selanjutnya yaitu Motivasi, merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Dimana motivasi intrinsik adalah suatu motivasi yang datang dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan dari luar, bila diaplikasikan dengan ini proyek ini maka seseorang tersebut melakukannya memang keinginan dari dalam diri untuk mempelajari teknologi. Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan suatu motivasi yang berasal dari luar diri seseorang dimana pada tahap ini seseorang tersebut termotivasi untuk mempelajari teknologi karena lingkungan dan orang-orang sekitarnya yang mengharuskan dia untuk mempelajari hal tersebut. Pada dasarnya setiap orang mampu melakukan sesuatu itu karena adanya motivasi yang membuat dia mau melakukan suatu tindakan tertentu, baik itu berasal dari dalam dirinya maupun dari luar.
Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Teori berikutnya yaitu teori belajar Piaget, Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan selama beberapa dekade. Dalam teorinya Piaget membahas pandangannya tentang bagaimana anak belajar. Menurut Jean Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. .

Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi.

1.      Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan.
2.      Adaptasi, terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

·         Asimilasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.    Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi merupakan salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang.

·         Akomodasi.
Akomodasi adalah pembentukan skema baru atau mengubah skema lama sehingga cocok dengan rangsangan (pengalaman )  yang baru, atau memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan yang ada.

·         Ekuilibrasi.
Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.

1.3 ALAT DAN BAHAN
·         Alat tulis
·         Laptop
·         Kuestioner
·         Printer
·         Kamera
·         Reward

1.4 ANALISIS DATA
Dalam pengumpulan data pada tugas mini proyek ini, kami menggunakan metode penarikan kesimpulan dengan cara pengisian kuesioner tentang peran teknologi dalam dunia perkuliahan

1.5 Objek dan Subjek Penelitian
Pada tugas mini proyek ini , untuk memproleh data kami menggunakan beberapa objek yang berasal dari kalangan mahasiswa/mahasiswi dari beberapa Universitas dan beberapa fakultas seperti USU, IAIN, UMSU,  UNIMED, POLMED. Kuesioner dilakukan dengan mengunjungi fakultas masing-masing.
Beberapa responden yang kami wawancarai , yaitu:
1.     Mawaddah nasution (  Ilmu komputer - USU )
2.     Murni kurniati (  Ilmu computer - USU )
3.     Siti Ramadani ( Perbandingan hukum dan mazhab – IAIN )
4.     Zulfikar hasibuan ( Pend. Bahasa Inggris – IAIN )
5.     Rianda gusna dewi ( Ekonomi Islam – IAIN )
6.      Haza Irma dwi juliansyah ( Teknik Elektro  - POLMED)
7.     Majidah ( Pend. Matematika – UMSU )
8.     Khioriah lubis ( Pend. Bahasa Inggris – UMSU )

KUESIONER     
Nama                    :
Fakultas / Universitas  :
Jurusan                  :
  1. Bagaimana pendapat anda dengan perkembangan teknologi saat ini? ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….……………………………..………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  2. Apakah saat ini anda sudah memiliki gadget yang canggih? Jika sudah sebutkan apa saja? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  3. Seberapa penting peran teknologi dalam kehidupan anda. Jelaskan! ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  4. Untuk kepentingan apa saja anda menggunakan teknologi. Jelaskan! ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  5. Dalam sehari Seberapa lama anda menghabiskan waktu besama teknologi? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  6. Sebutkan dampak positif dan negative dari penggunaan teknologi dalam kehidupan anda! ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  7. Apa yang anda rasakan  jika dalam sehari  anda tidak menggunakan teknologi (terutama handphone dan laptop) ? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

1.6 TIME TABLE

NO
Kegiatan
Tanggal pelaksanaan
1
Menentukan topic dan judul
21April 2012
2
Membuat pendahuluan dan landasaran teori
24 April 2012
3
Menentukan  alat dan bahan
24 April 2012
4
Menganalisis data
24 April 2012
5
Menentukan subjek
24 April 2012
6
Membuat  kuesioner
27 April 2012
7
Pemberian kuesioner
2 Mei 2012
8
Menarik kesimpulan
 Mei 2012
9
Membuat laporan
 Mei 2012
10
Membuat poster
Mei 2012
11
Memposting laporan di blog
Mei 2012





1.7 Kalkulasi Biaya


Print kertas untuk kuesioner
Rp. 4.000
Foto copy kuesioner
Rp. 6.000
Transportasi
Rp. 20.000
Reward ( pulpen)
Rp. 30.000
Total
Rp. 60.000


DAFTAR PUSTAKA
Santrock, John W.2004.Psikologi Pendidikan.Kencana.Jakarta





Jumat, 27 April 2012

Bimbingan dan Konseling

Diposting oleh Hikmah Nasution di 18.54 0 komentar Link ke posting ini




Pengertian Bimbingan dan Konseling

1. Defenisi Bimbingan

Dalam mendefinisikan istilah bimbingan, para ahli bidang bimbingan dan konseling memberikan pengertian yang berbeda-beda. Meskipun demikian, pengertian yang mereka sajikan memiliki satu kesamaan arti bahwa bimbingan merupakan suatu proses pemberian bantuan.
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Sementara Bimo Walgito (2004: 4-5), mendefinisikan bahwa bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, agar individu dapat mencapai kesejahteraan dalam kehidupannya. Chiskolm dalam McDaniel, dalam Prayitno dan Erman Amti (1994: 94), mengungkapkan bahwa bimbingan diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri.

2. Defenisi Konseling

Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antarab dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Jones (Insano, 2004 : 11) menyebutkan bahwa konseling merupakan suatu hubungan profesional antara seorang konselor yang terlatih dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individual atau seorang-seorang, meskipun kadang-kadang melibatkan lebih dari dua orang dan dirancang untuk membantu klien memahami dan memperjelas pandangan terhadap ruang lingkup hidupnya, sehingga dapat membuat pilihan yang bermakna bagi dirinya.
Dari semua pendapat di atas dapat dirumuskan dengan singkat bahwa Bimbingan dan konseling  adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik untuk mencapai kesejahteraan hidup.


Fungsi layanan bimbingan dan konseling
  • fungsi preventif
Memberikan Layanan orien-tasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah
  • fungsi pengembangan
Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembagannya
  • fungsi kuratif
Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi,sosial, belajar,atau karir)


Jenis – jenis Bimbingan dan Konseling

Bimbingan akademik

Bertujuan:
  1. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif.
  2. Memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat
  3. Memiliki keterampilan belajar yang efektif.
  4. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar/pendidikan.
  5. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian.
  6. Memiliki keterampilan membaca buku.

Bimbingan pribadi/social

Bertujuan:
  1. Mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME.
  2. Memiliki pemahaman ttg irama kehidupan yg bersifat fluktuatif (antara anugrah dan musibah) dan mampu meresponnya dg positif.
  3. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif
  4. Memiliki sikap respek thd diri sendiri
  5. Dapat mengelola stress
  6. Mampu mengendalikan diri dari perbuatan yang diharamkan agama
  7. Memahami perasaan diri dan mampu mengekspresikannya secara wajar
  8. Memiliki kemampuan memecahkan masalh
  9. Memiliki rasa percaya diri
  10. Memiliki mental yang sehat

Bimbingan karier

Bertujuan:
  1. Memiliki pemahaman tentang sekolah-sekolah lanjutan.
  2. Memiliki pemahaman bahwa studi merupakan investasi untuk meraih masa depan.
  3. Memiliki pemahaman tentang kaitan belajar dengan bekerja.
  4. Memiliki pemahaman tentang minat dan kemampuan diri yang terkait dengan pekerjaan.
  5. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir.
  6. Memiliki sikap positif terhadap pekerjaan.
  7. Memiliki sikap optimis dalam menghadapi masa depan.
  8. Memiliki kemauan untuk meningkatkan kemampuan yang terkait dg pekerjaan.

Bimbingan keluarga

Bertujuan:
  1. Memiliki sikap pemimpin dalam keluarga
  2. Mampu memberdayakan diri secara produktif
  3. Mampu menyesuaikan diri dengan norma yang ada dalam keluarga
  4. Mampu berpartisipasi aktif dalam mencapai kehidupan keluarga yang bahagia.

Tujuan diberikannya layanan Bimbingan dan Konseling
  1. Menghayati nilai-nilai agama sebagai pedoman dalam berperilaku
  2. Berperilaku atas dasar keputusan yang mempertimbangkan aspek-aspek nilai dan berani menghadapi resiko.
  3. Memiliki kemampuan mengendalikan diri (self-control) dalam mengekspresikan emosi atau dalam memenuhi kebutuhan diri.
  4. Mampu memecahkan masalah secara wajar dan objektif.
  5. Memelihara nilai-nilai persahabatan dan keharmonisan dalamberinteraksi dengan orang lain.
  6. Menjunjung tinggi nilai-nilai kodrati laki-laki atau perempuan sebagai dasar dalam kehidupan sosial
  7. Mengembangkan potensi diri melalui berbagai aktivitas yang positif
  8. Memperkaya strategi dan mencari peluang dalam berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompetitif.
  9. Mengembangkan dan memelihara penguasaan perilaku, nilai, dan kompetensi yang mendukung pilihan karir.
  10. Meyakini nilai-nilai yg terkandung dalam pernikahan dan berkeluarga sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yg bermartabat.

Perkembangan Psikososial sepanjang tiga tahun pertama

Diposting oleh Hikmah Nasution di 18.40 0 komentar Link ke posting ini


ISU PERKEMBANGAN PADA MASA BATITA
Kemunculan Pemahaman Diri
Pemahaman diri (self understanding) ialah representasi kognitif diri anak, bahan dan isi konsep diri anak.  William James , pada abad 19 menjelaskan dua diri : I-self dan Me-self . I-self adalah pengertian mengenai sebagai “yang mengenali” dan “yang mengetahui” dirinya sendiri atau disebut juga sebagai aktor. Me-self adalah apa yang diketahui oleh seseorang secara objektif tentang dirinya sendiri.Terdiri atas yang membuat dirinya unik, mencakup karakteristik materi, psikologis, dan sosial.
Konsep diri (self concept) adalah citra kita tentang kita sendiri. Konsep diri merupakan apa yang diyakini oleh i-self tentang me-self yaitu gambaran keseluruhan tentang kemampuan dan sifat kita.
Kemunculan I-self
Kemunculan i-self mulai berkembang sejak kelahiran sampai 15 bulan. Hubungan bayi-pengasuh sangat berpengaruhnya terbentuknya i-self. Sebagai contoh saat bayi yang sedang menyusu ASI akan muncul emosi dari dirinya . Emosi ini terhubung dengan sensorismotorisnya (menghisap)  yang berperan penting dalam perkembangan i-self.
Saat umur 4 sampai 10 bulan ,  ketika bayi dapat meraih, menggenggam , dan melakukan sesuatu bayi mulai mengalami sebagai agency personal, sebuah karkteristik i-self. Dimana self agency adalah mengontrol pikiran dan tindakannya sendiri. Contohnya pada saat bayi menyenggol mainan mobil dan mainan  tersebut bergerak,maka bayi merasa dapat menggerakkan mobil (“Saya bisa menggerakkan mobil”). Menurut Bandura seiring dengan berkembangnya agency personal muncullah sel efficacy. Self efficacy adalah keyakinan akan kemampuan untuk menghadapi tantangan yang ada dan mencapai target. Contoh saat bayi merasa dia bisa menggerakkan mainan mobilnya, ia akan berusaha menggerakkan mobil tersebut sampai tempat yang diinginkannya. Pada saat ini , bayi juga akan mengembangkan koherensi diri (self coherence) dimana koherensi diri adalah perasaan menjadi sebuah kesatuan fisik dengan dibatasi oleh keadaan lahiriah/kenyataan dimana agency tersebut berada.
Antara umur 10-15 bulan , seorang bayi mulai menyadari bahwa apa yang mereka rasakan dapat dibagi bersama orang lain. Contohnya saat bayi menggerakkan mobilnya,bayi akan melihat wajah ayahnya untuk melihat apakah tidak masalah jika ia menggerakkan mainan mobilnya.
Kemunculan Me Self
Kemunculan me-self mulai berkembang pada umur 15 sampai 30 bulan. Kemunculan me-self ini juga dapat dikatakan kesadaran diri akan perbedaan dirinya dengan orang lain dan dapat diidentifikasi. Diskriminasi perceptual merupakan pondasi awal Me-self. Kesadaran diri konseptual yang berkembang antar 15-18 bulan .
Dalam suatu riset, peneliti memoleskan lipstik pada hidung bayi berusia 6-24 bulan, kemudian peneliti meletakkan mereka di depan cermin. Anak yang berusia 18 bulan menyadari ada sesuatu pada hidungnya sedangkan bayi yang berusia kurang dari 15 bulan tidak menyadari bahwa di hidunya ada sesuatu.  Perilaku tersebut menandakan bahwa bayi yang umur lebih tua lebih menyadari akan keadaan dirinya.
Pada usia 20 sampai 24 bulan , bayi menggunakan kata ganti untuk menyatakan dirinya dan orang lain seperti aku dan kamu. Setelah mengenal konsep diri, anak akan mulai mengaplikasi gambaran  dirinya (rambut keriting, rambut lurus) dan evaluatif ( bagus , cantik, jelek) kepada diri mereka. Pada umur 19 sampai 30 bulan, mereka sudah dapat menggambarkan diri mereka dan memasukkan deksripsi verbal orang tua mereka (kamu cantik sekali) ke dalam citra mereka sendiri. Evaluasi diri dan evaluasi oleh orang lain merupakan langkah menuju perkembangan kesadaran.
Development of Autonomy
            Erikson (1950) mengidentifikasi periode sejak balita berusia 18 bulan hingga 3 tahun sebagai tahap kedua dari perkembangan kepribadian yaitu autonomy versus shame and doubt, yang ditandai oleh pergeseran kontrol eksternal menjadi self-control. Rasa percaya dan munculnya kesadaran diri terjadi di dalam tahap ini. Virtue (keutamaan) yang muncul selama tahap ini adalah will. Toilet training sudah dapat dilakukan oleh kebanyakan balita hingga berusia 27 bulan (Blum, Taubman, & Nemeth, 2003). Ini merupakan langkah yang penting terhadap otonomi dan kontrol diri pada anak. Begitu pula dengan bahasa; semakin baik anak dalam mengungkapkan keinginannya, mereka akan semakin kuat. Rasa malu dan ragu akan muncul jika anak mendapatkan kebebasan yang terbatas.
            Di Amerika Serikat, terdapat istilah “terrible twos” yang merupakan manifestasi dari keinginan otonomi. Balita dites dengan menanamkan ide pada mereka bahwa mereka adalah seorang individu, memiliki kendali dalam dunia mereka, dan mereka mempunyai kekuatan baru. Mereka diarahkan untuk mengeluarkan ide, melatih kemampuan mereka, dan membuat keputusannya sendiri. Pengarahan ini menunjukkan sisi negativism, kecenderungan untuk berteriak “Tidak!”. Hampir semua anak di Amerika Serikat menunjukkan negativism dalam berbagai tingkat; hal ini biasanya dimulai sebelun usia 2 tahun, cenderung meningkat sekitar usia 3,5 sampai 4 tahun, dan mulai menurun di usia 6 tahun. Pengasuh melihat ekspresi anak atas keinginannya sebagai hal yang normal, dorongan yang sehat mandiri, bukan sebagai anak yang nakal, dapat membantu mereka untuk mempelajari pengendalian diri, berkontribusi terhadap kompetensi diri mereka, dan dapat menghindari konflik.
            Banyak orang tua di Amerika Serikat yang terkejut mengetahui bahwa “terrible twos” bukanlah hal yang universal. Pada beberapa negara berkembang, transisi dari balita ke anak-anak awal relatif berjalan dengan halus dan harmoni (Mosier & Rogoff, 2003)
SOSIALISASI DAN INTERNALISASI
Sosialisasi adalah proses dimana anak mengembangkan kebiasaan, keterampilan, nilai, dan motivasi yang menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang bertanggung jawab dan produktif. Proses sosialisasi bergantung pada proses internalisasi, yaitu proses anak menerima tindakan standard masyarakat sebagai standard dirinya juga. Anak yang berhasil bersosialisasi tidak lagi hanya mematuhi perintah atau peraturan untuk mendapat imbalan atau menghindari hukuman, tetapi sebagai kewajiban diri sebagai anggota masyarakat.
Self-regulation, kendali terhadap perilaku diri sendiri untuk melakukan penyesuaian terhadap permintaan atau harapan pengasuh, bahkan di saat pengasuh tidak ada, merupakan dasar sosialisasi. Tentunya, regulasi diri ini membutuhkan orang dewasa sebagai peringatan. Misalnya, seorang anak yang akan memasukkan tangannya di kontak listrik dan ayahnya berteriak,”Jangan!”, maka anak itu akan menarik tangannya. Di suatu waktu berikutnya, saat ia akan melakukan hal yang sama, ia akan mencegah dirinya sendiri berdasarkan ingatannya terhadap larangan ayahnya.
Nurani adalah suatu standar internal tingkah laku untuk mengendalikan perilaku dan akan menghasilkan ketidaknyamanan emosional ketika dilanggar. Nuarnin bergantung pada keinginan untuk berbuat hal yang benar, bukan karena orang lain mengatakan demikian.
Ada dua jenis kepatuhan, yaitu :
·         Kepatuhan Berkomitmen (Commited Compliance), apabila anak secara sukarela melaksanakan perintah, tanpa diingatkan atau salah
·         Kepatuhan Situasional (Situational Compliance), apabila anak melakukan perintah karena diingatkan ataupun kendali yang sedang berlangsung
 HUBUNGAN DENGAN ANAK-ANAK LAIN
Walaupun orang tua dan pengasuh memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan anak, berhubungan dengan anak lain, baik di dalam ataupun di luar rumah, penting dilakukan sejak  masa bayi dan seterusnya.
SAUDARA KANDUNG
Saat bayi mulai aktif dan menjadi makin asertif, mau tidak mau bayi menghadapi konflik dengan saudara-saudaranya. Konflik saudara kandung akan lebih meningkat drastic setelah anak yang lebih muda menginjak usia 18 bulan. Pada bulan-bulan berikutnya, adik mulai berpartisipasi dalam berbagai interaksi keluarga. Dengan demikian, anak akan semakin awas terhadap niat dan perasaan anggota keluarganya. Anak mulai mengenali perilaku yang mengganggu atau membuat kesal serta perilaku yang dianggap nakal.
Namun begitupun, konflik yang terjadi antara saudara kandung cenderung lebih konstruktif membantu anak untuk mengenal kebutuhan, keinginan, dan sudut pandang masing-masing, serta membantu anak untuk belajar berjuang, berselisih paham, dan berkompromi.
NONSAUDARA KANDUNG
Bayi dan anak menunjukkan rasa ingin tahu terhadap oang luar rumah, terutama orang-orang yang seukuran dengan diri mereka. Pada beberapa bulan pertama, mereka melihat, tersenyum, dan menggumam dengan bayi lain. Pada paruh akhir tahun pertama, mereka makin sering tersenyum, menyentuh, dan berceloteh dengan sesama. Pada usia 1 tahun, dimana agenda utama mereka adalah belajar berjalan, para bayi tidak terlalu memedulikan orang lain. Sejak usia 1,5-3 tahun, anak-anak menunjukkan rasa ingin tahu yang meningkat terhadap apa yang dilakukan anak lain.
Balita belajar dengan saling meniru. Konflik yang terjadi dengan nonsaudara kandung juga bertujuan untuk membantu anak belajar tentang cara bernegosiasi dan menyelesaikan pertengkaran.


ANAK DENGAN ORANG TUA BEKERJA
Sebuah analisis data The National Longitudinal Survey of Youth (NYLS) menemukan sedikit atau tidak ada efek dari ibu bekerja terhadap kepatuhan anak, masalah perilaku, harga diri, perkembangan kognitif dan prestasi akademis. Ibu bekerja terlihat lebih menguntungkan keluarga yang berpenghasilan rendah dengan cara meningkatkan pemasukan keluarga.
Di pihak lain, data longitudinal yang meneliti anak dengan ibu bekerja, menunjukkan adanya efek negative terhadap perkembangan kognitif di usia 15 bulan hingga 3 tahun di saat ibu bekerja 30 jam atau lebih per minggu. Sensitivitas maternal, kualitas lingkungan rumah, dan kualitas pengasuhan anak merupakan beberapa dampak dari pekerjaan orang tua.
Meningkatnya jumlah ibu bekerja pada masa ini membuat banyak ibu memercayakan pengasuhan anaknya di penitipan anak. Baik keluarga dan pengaturan penitipan anak akan secara langsung memengaruhi anak.
Dampak penitipan anak secara dini bergantung pada jenis, jumlah, kualitas, dan stabilitas pengasuha, serta penghasilan keluarga dan usia anak saat mendapatkan pengasuhan nonmaternal. Seorang anak yang pemalu dan memiliki pola nonsecure attachment cenderung lebih stress di tempat penitipan dan kesulitan bersosialisasi.
Elemen terpenting kualitas pengasuhan tempat penitipan anak adalah pengasuh. Bayi butuh pengasuhan yang konsisten untuk mengembangkan rasa percaya dan kelekatan yang aman. Stabilitas pengasuhan memfasilitasi koordinasi antara orang tua dan pemberi layaan penitipan anal, yang dapat membantu melindungi dari pengaruh negative berkepanjangan. Semakin sering anak diasuh bukan oleh ibunya, maka akan semakin besar pula risiko masalah tingkah laku yang dimiliki anak tersebut.


DAFTAR PUSTAKA
Papalia & Olds.2004.Human Development.New York : McGraw-Hill Book Co.
Santrock., J.W. 2009.Life Span Development(12th Ed) .New York : McGraw-Hill Book Co.
Papalia & Olds.2009.Perkembangan Manusia(10th Ed).Jakarta : Salemba Humanika.





Proses Kognitif, Motivasi, dan Tujuan Instruksional

Diposting oleh Hikmah Nasution di 18.24 0 komentar Link ke posting ini

Kognitif
kognitif adalah, perubahan dalam pemikiran, kecerdasan, dan bahasa. Proses perkembangan kognitif ini memampukan anak untuk mengingat pelajaran dan pengetahuan baru. Menurut Piaget proses perkembangan kognitif pada anak bermula dari sebuah pertanyaan "siapa yang tahu isi dari pikiran anak?" Pada tahap ini anak menggunakan skema dalam memahami dunia mereka, serta bagaimana anak mampu mengasosiasikan dan memahami pemikiran mereka.
Kemampuan bahasa pada anak juga mempengaruhi apakah perkembangan kognitif itu sudah berjalan dengan baik atau tidak.

Proses Kognitif
1.      Pemahaman Konseptual
Pemahaman konseptual adalah kunci dari pembelajaran. Tujuannya untuk membantu anak memahami konsep utama suatu subjek, bukan sekedar mengingat fakta yang terpisah-pisah. Konsep merupakan kategori mengelompokkan objek, kejadian, dan karakteristik berdasarkan properti umum.

2.      Berfikir
Berfikir adalah memanipulasi atau mengelola dan mentransformasi informasi dalam memori. Hal ini sering dilakukan dalam pembentukan konsep, penalaran, berfikir kritis, membuat keputusan, berfikir kreatif, dan memecahkan masalah. Penalaran adalah pemikiran logis menggunakan logika untuk menghasilkan kesimpulan. 

Motivasi
Motivasi berasal dari bahasa Inggris yaitu "Motivation" dengan kata dasar yaitu Motive yang berarti tujuan. Jadi kata motif ini bisa dikatakan sebagai sebab, tujuan, pendorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu yang dinginkannya.
Motivasi adalah proses pemberian semangat, arah, dan kegigihan perilaku (perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama). Motivasi ada yang intrinsik maupun ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah dorongan yang di dapat dari dalam (diri sendiri), misalnya keinginan untuk berprestasi, untuk membahagiakan orang tua dengan menunjukkan prestasi. Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang di dapat dari luar, misalnya dorongan dari orang tua agar anak dapat belajar lebih giat lagi dalam belajar.

Tujuan instruksional
Tujuan Instruksional (Instructional Objectives

  Defenisi Tujuan Instruksional
Materi suatu bidang studi tidak mungkin menjadi milik kita, tanpa dipelajari terlebih dahulu, baik dipelajari sendiri maupun diajarkan oleh guru. Proses atau kegiatan mempelajari materi ini terjadi dalam saat terjadinya situasi belajar mengajar atau pengajaran (instruksional). Dari perkatan pengajaran atau instruksional inilah maka timbul istilah tujuan instruksional merupakan bagaian dari pembelajaran, berbagai defenisi tujuan instruksional disampaikan oleh beberapa tokoh diantanya :
  • Robert F. Mager (1962), tujuan instruksional sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi tingkat kompetensi tertentu, 
  • Eduard L. Dejnozka dan David E. Kavel (1981), tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam bentuk perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan. Perilaku ini dapat berupa fakta yang tersamar (covert), 
  • Fred Percival dan Henry Ellington (1984), tujuan instruksional adalah suatu pernyataan yang jelas menunjukkan penampilan atauketerampilan siswa tertentu yang diharapkan dapat sicapai sebagai hasil belajar.
Dari beberapa defenisi diatas maka tujuan instruksional adalah tujuan yang menggambarkan pengethuan, kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur.

Tujuan pengajaran (Instruksional) dikelompokkan menjadi dua yaitu:
  • Tujuan Instruksional Umum (TIU), yang menggariskan hasil-hasil dianeka bidang studi yang harus dicapai oleh siswa. 
  • Tujuan Instruksional Khusus (TIK).yang merupakan penjabaran TIU yang menyangkut satu pokok bahasan atau topik pelajaran tertentu sebagai tujuan pengajaran yang kongkrit dan spesifik, yang dianggap cukup berharga, wajar dan pantas yang dapat direalisasikan dan bertahan lama demi tercapainya tujuan instruksional umum. TIK dapat dibedakn menjadi dua aspek yakni:
- Aspek jenis perilaku yang dituntut oleh siswa.
- Aspek isi yakni aspek terhadap hal yang harus dilakukan.

  Manfaat Tujuan Instruksional
Dalam pembaharuan system pendidikan yang berlaku di Indonesia sekarang ini, setiap guru dituntut untuk mengetahui tujuan pembelajaran dari kegiatannya mengajar dengan titik tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu dalam merancang system belajar yang akan dilakukannya, langkah pertama yang ia lakukan adalah membuat tujuan instruksional. Adapun manfaat tujuan instruksional adalah:
  • Guru mempunyai arah untuk memilih bahan pelajaran dan memilih prosedur (metode) mangajar, 
  • Siswa mengetahui arah belajarnya, 
  • Setiap guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenang mengajarkan suatu bahan sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah (gap) atau saling menutup (overlap) antar guru, 
  • Guru mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa, 
  • Guru sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang kebijaksanaan (decision maker) mempunyai criteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efiensi pengajaran.

Daftar pustaka
Santrock, J.W. (2008). Psikologi Pendidikan (edisi kedua). Jakarta: Prenada Media Group.



Perencanaan Mini Proyek

Diposting oleh Hikmah Nasution di 03.07 0 komentar Link ke posting ini
Nama kelompok :



PERAN TEKNOLOGI DALAM DUNIA PERKULIAHAN

BAB 1
PERENCANAAN
1.1 PENDAHULUAN
Pada tugas mini proyek kali ini kami memilih topik : Peran Teknologi Sebagai Media Belajar Pada Mahasiswa Dan berjudul: Peran Teknologi Dalam Dunia Perkuliahan.  Teknologi berasal dari istilah teckne yang berarti seni (art) atau keterampilan. Menurut Dictionary of Science, teknologi adalah penerapan pengetahuan teoritis pada masalah-masalah praktis. Seperti yang kita lihat, Perkembangan teknologi telah memperngaruhi seluruh aspek kehidupan tak terkecuali pendidikan, dewasa ini teknologi sudah berkembang dengan sangat pesat karna teknologi dapat berkembang dalam hitungan detik saja.  Dan tidak dapat dipungkiri kalau teknologi tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sekarang ini, sebab teknologi sudah menjadi konsumsi dari berbagai kalangan, tidak luput juga bagi dunia pendidikan. Teknologi bisa menjadi salah satu alternative dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). .
Perkembangan teknologi informasi khususnya komputer banyak mengubah pola hidup dan gaya hidup secara global. Dan dengan sendirinya berubah pula kebiasaan, baik dalam bergaul, berteman, dalam lingkungan kerja, sekolah maupun dalam keluarga. Hal ini sangat dirasakan dampaknya dimana tingkah laku dan kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah terjadi kini dapat kita baca di media masa, kita tonton melalui layar TV dan kita saksikan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Tidak sampai disitu, dalam dunia pendidikan misalnya, pola dan gaya hidup ini sudah dapat kita rasakan dalam pergaulan anak didik kita, yang tadinya pendiam kini berubah jadi periang, yang tadinya pemalu kini berubah menjadi pemberani dan seterusnya. Ini berarti kebiasaan dan gaya hidup siswa sudah mulai berubah. Hal ini bisa berdampak positif dan bisa juga berdampak negatif tergantung bagaimana kita mengarahkannya.Peran Teknologi InformasiPenggunaan teknologi informasi khususnya komputer kini sudah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga ke sekolah lanjutan atas dan sekolah kejuruan. Namun demikian yang paling besar pengaruhnya adalah di Perguruan Tinggi, di mana hampir semua perguruan tinggi di Indonesia sudah memanfaatkan teknologi ini dalam perkuliahannya, baik melalui tatap muka maupun secara online. Sebagai contoh seorang dosen dalam menyampaikan materinya tidak hanya mengandalkan media konvensional saja, melainkan sudah menggunakan unsur teknologi di dalamnya. Biasanya seorang dosen atau guru di PT tertentu dalam menyampaikan materi kuliah ditampilkan dalam bentuk slide presentasi dengan bantuan komputer. Dengan teknologi ini mahasiswa atau siswa bisa mengikuti matakuliah dengan baik, karena materi yang disampaikan selain mengandung materi yang berbobot juga mengandung unsur multimedia yang bisa menghibur.Di mana dengan bantuan komputer yang dihubungkan dengan multimedia projector seorang dosen tidak perlu menekan tombol keyboard atau papan ketik melainkan cukup menekan remote control yang dipegangnya.
Di negara maju dan di beberapa negara berkembang dimana tingkat pendidikannya sudah bisa dikatakan cukup baik, penerapan teknologi tinggi ini sudah berjalan lebih dari 20 tahun. Sementara di Indonesia baru beberapa tahun saja sejak teknologi jaringan mulai dikenal dan diterapkan sebagai salah satu materi pelajaran di sekolah menengah kejuruan (SMK) beberapa tahun lalu dan untuk Sekolah Lanjutan Atas dengan masuknya kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Dengan teknologi ini seorang dosen atau guru dalam menyampaikan materinya tidak hanya dalam bentuk tatap muka saja melainkan sudah menggunakan berbagai media komunikasi yang dipadukan dengan teknologi networking, misalnya Intranet dan Internet.
1.2 LANDASAN TEORI
Pada proyek kali ini kami menggunakan  teori dari hubungan teknologi dan pendidikan, ubiquitous computing, teori  motivasi dan teori belajar.
Teknologi merupakan bagian dari pendidikan dan sebagai sarana untuk mendapatkan pendidikan , informasi atau pengetahuan. Teknologi dan pendidikan saling berhubungan. Pada zaman sekarang ini, pendidikan sangat diharuskan untuk didampingi oleh teknologi, dikarnakan dalam penelitian oleh National Assesment of Educational Progress (NAEP), murid di grade 4, 8, dan 12 yang menggunakan internet dirumah mendapatkan nilai sains yang lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak menggunakan internet. Selain internet, teknologi yang lain yang sekarang lazim dilihat pada kebanyakan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi seperti laptop atau computer, lab, dan sebagainya merupakan componen-komponen yang wajib ada disekolah atau perguruan tinggi karena ini merupakan hal yang penting.
Adapun teori lain yang berhubungan dengan peran teknologi yaitu Ubiquitous computing . Ubiquitous computing adalah generasi computer yang akan datang, dimana generasi ini menekankan distribusi computer kelingkungan , ketimbang ke personal. Dalam lingkungan ini teknologi akan menjadi latar belakang pada zaman sekarang, kita mulai memasuki zaman ubiquitous computing yang mana sudah banyak terdapat perangkat computer yang kecil, portable, mobile dan harganya murah yang telah menggantikan computer pribadi pada generasi kedua ubiquitous adalah kebalikan dari realitas virtual. Jika realita virtual menempatkan orang didalam dunia yang diciptakan computer. Ubiquitous computing akan memaksa computer eksis didunia manusia. Perangkat computer ini lebih cocok untuk pendidikan karena dipasangkan dengan jaringan murah, dapat memampukan murid untuk membawa perangkat informasi personal kelapangan untuk membantu mengerjakan suatu tugas dan bias dibawa pulang dan dapat digunakan tanpa dibatasi lokasi.
Teori selanjutnya yaitu Motivasi, merupakan satu penggerak dari dalam hati seseorang untuk melakukan atau mencapai sesuatu tujuan. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan.
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsic dan ekstrinsic. Dimana motivasi intrinsik adalah suatu motivasi yang datang dari dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu tanpa adanya paksaan dari luar, bila diaplikasikan dengan ini proyek ini maka seseorang tersebut melakukannya memang keinginan dari dalam diri untuk mempelajari teknologi. Sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan suatu motivasi yang berasal dari luar diri seseorang dimana pada tahap ini seseorang tersebut termotivasi untuk mempelajari teknologi karena lingkungan dan orang-orang sekitarnya yang mengharuskan dia untuk mempelajari hal tersebut. Pada dasarnya setiap orang mampu melakukan sesuatu itu karena adanya motivasi yang membuat dia mau melakukan suatu tindakan tertentu, baik itu berasal dari dalam dirinya maupun dari luar.
Teori McClelland (Teori Kebutuhan Berprestasi)
Dari McClelland dikenal tentang teori kebutuhan untuk mencapai prestasi atau Need for Acievement (N.Ach) yang menyatakan bahwa motivasi berbeda-beda, sesuai dengan kekuatan kebutuhan seseorang akan prestasi. Murray sebagaimana dikutip oleh Winardi merumuskan kebutuhan akan prestasi tersebut sebagai keinginan :“ Melaksanakan sesuatu tugas atau pekerjaan yang sulit. Menguasai, memanipulasi, atau mengorganisasi obyek-obyek fisik, manusia, atau ide-ide melaksanakan hal-hal tersebut secepat mungkin dan seindependen mungkin, sesuai kondisi yang berlaku. Mengatasi kendala-kendala, mencapai standar tinggi. Mencapai performa puncak untuk diri sendiri. Mampu menang dalam persaingan dengan pihak lain. Meningkatkan kemampuan diri melalui penerapan bakat secara berhasil.”
Teori berikutnya yaitu teori belajar Piaget, Piaget mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan selama beberapa dekade. Dalam teorinya Piaget membahas pandangannya tentang bagaimana anak belajar. Menurut Jean Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisiknya. .

Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi dan adaptasi.

1.      Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi sistem-sistem yang teratur dan berhubungan.
2.      Adaptasi, terhadap lingkungan dilakukan melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

·         Asimilasi.
Asimilasi adalah proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru kedalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.    Asimilasi dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan baru dalam skema yang telah ada. Proses asimilasi ini berjalan terus. Asimilasi tidak akan menyebabkan perubahan/pergantian skemata melainkan perkembangan skemata. Asimilasi merupakan salah satu proses individu dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri dengan lingkungan baru pengertian orang itu berkembang.

·         Akomodasi.
Akomodasi adalah pembentukan skema baru atau mengubah skema lama sehingga cocok dengan rangsangan (pengalaman )  yang baru, atau memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan yang ada.

·         Ekuilibrasi.
Ekuilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sedangkan diskuilibrasi adalah keadaan dimana tidak seimbangnya antara proses asimilasi dan akomodasi, ekuilibrasi dapat membuat seseorang menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya.

1.3 ALAT DAN BAHAN
·         Alat tulis
·         Laptop
·         Kuestioner
·         Printer
·         Kamera
·         Reward

1.4 ANALISIS DATA
Dalam pengumpulan data pada tugas mini proyek ini, kami menggunakan metode penarikan kesimpulan dengan cara pengisian kuesioner tentang peran teknologi dalam dunia perkuliahan

1.5 Objek dan Subjek Penelitian
Pada tugas mini proyek ini , untuk memproleh data kami menggunakan beberapa objek yang berasal dari kalangan mahasiswa/mahasiswi dari beberapa Universitas dan beberapa fakultas seperti USU, IAIN, UMSU,  UNIMED, POLMED. Kuesioner dilakukan dengan mengunjungi fakultas masing-masing.
Beberapa responden yang kami wawancarai , yaitu:
1.     Mawaddah nasution (  Ilmu komputer - USU )
2.     Murni kurniati (  Ilmu computer - USU )
3.     Siti Ramadani ( Perbandingan hukum dan mazhab – IAIN )
4.     Zulfikar hasibuan ( Pend. Bahasa Inggris – IAIN )
5.     Rianda gusna dewi ( Ekonomi Islam – IAIN )
6.      Haza Irma dwi juliansyah ( Teknik Elektro  - POLMED)
7.     Majidah ( Pend. Matematika – UMSU )
8.     Khioriah lubis ( Pend. Bahasa Inggris – UMSU )

KUESIONER     
Nama                    :
Fakultas / Universitas  :
Jurusan                  :
  1. Bagaimana pendapat anda dengan perkembangan teknologi saat ini? ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….……………………………..………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  2. Apakah saat ini anda sudah memiliki gadget yang canggih? Jika sudah sebutkan apa saja? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  3. Seberapa penting peran teknologi dalam kehidupan anda. Jelaskan! ................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................
  4. Untuk kepentingan apa saja anda menggunakan teknologi. Jelaskan! ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  5. Dalam sehari Seberapa lama anda menghabiskan waktu besama teknologi? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  6. Sebutkan dampak positif dan negative dari penggunaan teknologi dalam kehidupan anda! ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  7. Apa yang anda rasakan  jika dalam sehari  anda tidak menggunakan teknologi (terutama handphone dan laptop) ? ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

1.6 TIME TABLE

NO
Kegiatan
Tanggal pelaksanaan
1
Menentukan topic dan judul
21April 2012
2
Membuat pendahuluan dan landasaran teori
24 April 2012
3
Menentukan  alat dan bahan
24 April 2012
4
Menganalisis data
24 April 2012
5
Menentukan subjek
24 April 2012
6
Membuat  kuesioner
27 April 2012
7
Pemberian kuesioner
2 Mei 2012
8
Menarik kesimpulan
 Mei 2012
9
Membuat laporan
 Mei 2012
10
Membuat poster
Mei 2012
11
Memposting laporan di blog
Mei 2012





1.7 Kalkulasi Biaya


Print kertas untuk kuesioner
Rp. 4.000
Foto copy kuesioner
Rp. 6.000
Transportasi
Rp. 20.000
Reward ( pulpen)
Rp. 30.000
Total
Rp. 60.000


DAFTAR PUSTAKA
Santrock, John W.2004.Psikologi Pendidikan.Kencana.Jakarta