Pages

Kamis, 29 Maret 2012

Penerapan Psikologi dalam Pendidikan


      Penerapan Psikologi dalam Pendidikan
Pendidikan umum didirikan sebagai penerapan dari prinsip Thomas Jefferson yang menyatakan bahwa setiap penduduk Amerika harus memiliki kesetaraan di bidang pendidikan selayaknya kesempatan berpolitik. Hal ini dikarenakan para penduduk membutuhkan pendidikan untuk membekali mereka dalam lembaga - lembaga demokratus. Kemudian, oleh karena alasan inilah, sistem pendidikan ini harus bisa diterapkan oleh setiap anak Amerika dengan tanpa memandang ras apapun. Kemudian, penemuan - penemuan terbaru yang penting dalam psikologi pendidikan telah menjadi sesuatu yang dapat membantu anak - anak mendapatkan keuntungan lebih dari waktu mereka di sekolah, mendapatkan pendekatan pembelajaran secara menyeluruh, metode efektif dalam mendidik anak - anak yang kurang mampu, perkembangan dari tes - tes yang lebih berarti, dan juga penerapan anak - anak dengan tantangan psikologi dan fisik nya menjadi mempunyai lingkungan kelas yang normal, yang dikenal sebagai belajar secara menyeluruh.
1.  Pembelajaran secara menyeluruh dan Sistem pengajaran yang menarik
            Seorang psikolog pendidikan, Benjamin Bloom memulai prinsip program pembelajaran secara menyeluruh (Mastery Learning) . Adapun program pembelajaran secara menyeluruh ini secara sederhana menyatakan bahwa anak - anak tidak boleh melangkah ke tahap pembelajaran selanjutnya sebelum mereka benar - benar menguasai program pembelajaran yang pertama. Contoh studi kasusnya, misalnya dalam sebuah ruangan kelas terdapat satu kelompok murid di mana mereka dilibatkan dalam suatu pembelajaran mengenai mekanik otomatis. Kemudian, pelajaran ini dibagi dalam delapan unit yang berbeda. Kemudian, setengah dari murid - murid ini diarahkan untuk belajar menurut jadwal. Sedangkan kelompok lainnya, yang merupakan kelompok yang diarahkan untuk menerapkan ilmu belajar secara menyeluruh ini, belajar menurut kemampuan mereka di mana mereka tidak boleh lanjut ke tahap pembelajaran selanjutnya sebelum mereka benar - benar menguasai unit sebelumnya. Setelah percobaan ini dilaksanakan, akhirnya didapatkan hasil bahwa kelompok yang menerapkan program pembelajaran secara menyeluruh atau mastery learning group  inilah yang mendapatkan hasil lebih baik dalam waktu bersamaan.
            Meskipun demikian, Bloom menyarankan bahwa program pembelajaran secara menyeluruh ini lebih efektif untuk anak - anak dengan kemapuan belajar lebih lambat.
                        Kemudian, perkembangan terbaru adalah belajar dari komputer yang tidak begitu mahal yang dapat digunakan di dalam kelas. Program pembelajaran ini dinamakan Sistem Pembelajaran yang Intelijen (Intelligent Tutoring Systems) . Di dalam program ITS, para pembelajar atau murid dapat menggunakan komputer tersebut untuk belajar. Komputer tersebut dapat memberikan instruksi atau pengarahan seputar cara penggunaan program pembelajaran tersebut. Kemudian, para pembelajar dapat menggunakan kemampuan mereka secara mandiri untuk mengakses program - program tersebut dan menjawab soal - soal latihan yang ada tanpa pengarah. Beda program ini dengan program biasa adalah program ini tidak memungkinkan sang pembelajar untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya tanpa penguasaan sepenuhnya dari tahap sebelumnya
2.  Perintah langsung (Direct Instruction)
            Pendekatan dengan menggunakan perintah langsung ini didasari oleh ide yang hampir sama dan menarik dengan yang ada pada sistem pembelajaran secara menyeluruh (mastery learning) . Prinsip perintah langsung (direct instruction)  ini didasari oleh beberapa strategi - strategi sebagai berikut :
·         Anak-anak yang dibimbing selama dalam proses belajar mengajarnya akan mempunyai kemampuan lebih untuk menemukan konsep - konsep dan ide - ide pada diri mereka sendiri.
·         Informasi - informasi baru dan juga kemampuan - kemampuan yang penting diharapkan dapat ditandai oleh murid - muridnya.
·         Informasi baru dipresentasikan kepada murid -murid dengan mennggunakan kalimat yang mudah dimengerti.
·         Anak - anak biasanya sering diajak untuk menjelaskan apa yang mereka pelajari, misalnya saja membaca atau menyelesaikan suatu permasalahan, bertujuan agar si guru dapat mengevaluasi hasil belajar mereka secara langsung daripada hanya secara tes atau tulisan.
·         Guru dapat juga secara berkala mendukung perkembangan yang positif untuk hasil belajar yang baik atau perbaikan secara lembut untuk hasil belajar yang dirasakan kurang baik.
            Pada pertengahan tahun 1960, sebuah penelitian besar yang diadakan oleh Pusat Pendidikan di Amerika bertujuan untuk menguji kelayakan sistem pengajaran bagi anak yang kurang mampu. Sembilan grup peneliti dibiayai untuk mendisain dan menerapkan apa yang menurut mereka sebagai program pendidikan yang ideal dan beberapa grup penelitian yang diambil secara acak diajak untuk menguji kelayakan program belajar itu. Penelitian pendidikan besar ini yang melibatkan lebih dari sepuluh ribu anak - anak dari berbagai negara dinamakan Project Follow Through . Sembilan projek ini sebenarnya sangat berbeda dalam konteks filosofi pendidikan yang sebenarnya dan juga merupakan projek yang tidak berhasil dalam mengembangkan program pendidikan. Adapun projek yang paling berhasil adalah dengan menggunakan perintah langsung untuk mengembangkan anak-anak kurang mampu.

3.  Pembelajaran dengan memotivasi dalam kelas (Motivating Learning in the Classroom)
Pembelajaran secara memotivasi ini menggunakan pendekatan secara ekstrinsik dan intrinsik. Pendekatan secara ekstrinsik, misalnya saja dengan menggunakan pujian atau motivasi dari guru. Pendekatan secara intrinsik, misalnya ketika guru menjelaskan apa fungsi belajar daripada hanya menekankan kepada nilai bagus yang akan dicapai murid jika mereka dapat belajar dengan baik. Dengan menggunakan pendekatan secara intrinsik ini, tentunya para murid dapat belajar dengan hasil yang lebih baik. Persamaannya, murid - murid yang diijinkan untuk memilih mata pelajaran mereka sendiri diantara beberapa mata pelajaran pilihan mendapatkan ilmu lebih banyak dari proses pembelajaran mereka sendiri. Kesimpulannya, program - program pendidikan yang dapat menyeimbangkan motivasi ekstrinsik dan intrinsik ini mempunyai keefektifan yang baik di dalam kelas.
4.  Pengujian dengan kriteria dan referensi ( Criterion - Referenced Testing )
Pada pendekatan tradisional untuk menguji program pendidikan, anak - anak biasanya dibandingkan dengan anak lainnya. Misalnya saja, suatu tes bersifat tradisional dalam pelajaran aritmatika yang membutuhkan anak - anak untuk menghadapi banyak soal menggunakan angka. Kemudian, anak - anak yang mampu menyelesaikan program tersebut dikategorikan sebagai anak - anak yang berada dalam level “mampu”. Tujuan dari program pengujian dengan kriteria dan referensi ini adalah bukan untuk membandingkan seorang anak dengan anak lainnya, namun lebih kepada untuk menentukan apakah seorang anak dapat memenuhi kriteria minimum untuk suatu program edukasi yang bersifat spesifik. Biasanya, program - program ini dapat dipraktekkan secara langsung. Misalnya saja, dalam suatu pengujian, seorang anak diberikan kesempatan untuk mengisi formulir lamaran kerja seperti yang biasanya dibutuhkan oleh seorang pelamar kerja. Tujuan dari pengujian ini bukanlah hanya semata - mata membandingkan kemampuan si anak dengan kemampuan anak lain, namun tujuan nya adalah lebih untuk mengetahui sampai di mana kemampuan si anak dalam hal ini. Apabila si anak belum mengetahui cara mengisi formulir ini dengan tepat, maka tentu guru yang bertanggung jawab akan mengajarinya hingga ia mampu mengisi formulir lamaran kerja dengan sendirinya.
Program pengujian secara menyeluruh ini pun sebenarnya bertujuan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh guru untuk mengembangkan program pendidikan nya. Jika pengujian ini berhasil dilakukan, maka tentunya para pendidik atau guru dapat mendapatkan komentar atau feedback dari pengujian yang telah dilakukan. Pengujian ini juga dapat dijadikan sebagai bahan instropeksi untuk si guru dalam mendidik muridnya.
Program pengujian ini di kemudian hari pun mulai dipikirkan sebagai bahan pengujian untuk menentukan apakah seorang anak dapat dipromosi kan dari level yang satu ke level berikutnya. Ada dua pendapat di dalam menentukan kelayakan sistem pengujian ini, di antaranya adalah :
*      Anak - anak ataupun pelajar yang berasal dari luar wilayah Amerika Serikat kemungkinan hanya mendapatkan sedikit info mengenai sistem pengujian ini. Sistem pengujian ini tidak selalu adil bagi anak - anak yang datang dari berbagai budaya di Amerika Serikat.
*      Sistem pengujian ini memungkinkan anak - anak yang mempunyai tingkat intelijensi lebih tinggi dapat lebih memahami pertanyaan - pertanyaan dan mendapatkan nilai yang lebih baik. Hal ini berarti bahwa sitem penilaian ini cenderung menyudutkan anak - anak yang mempunyai tingkat intelijensi yang lebih rendah.
5.  Pendidikan untuk orang - orang berkebutuhan khusus ( Mainstreaming )
Pada periode tahun 1970 - an, kebijakan pendidikan yang diumumkan oleh legislasi federal atau yang lebih dikenal sebagai Public Law 94 - 142  menyatakan bahwa setiap anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan secara umum tanpa melihat kebutuhan khusus nya. Ini berarti bahwa sekarang, anak - anak yang berkebutuhan khusus dapat mengakses pendidikan umum dalam kualitas yang lebih baik dari masa sebelumnya.
            Kemudian, Public Law 94 - 142  dan pendukungnya, program IDEA atau yang lebih dikenal sebagai program pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus, menyatakan bahwa anak - anak yang memiliki kebutuhan khusus harus menerima bantuan edukasi dan psikologi di dalam lingkungannya yang menyerupai program pendidikan yang biasanya diterima oleh anak - anak normal lain dalam lingkungannya. Oleh karena itu, anak - anak yang berkebutuhan khusus tidak boleh lagi diisolasi sebab mereka mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan tersebut dalam sekolah - sekolah normal biasanya dan memungkinkan mereka untuk berinteraksi satu sama lainnya dengan baik. Kemudian, jika memungkinkan, anak - anak yang berkebutuhan khusus harus ditempatkan di dalam sebuah ruangan kelas untuk belajar dengan anak - anak normal lainnya dan hanya akan dipindahkan atau dibantu jika hal ini benar - benar dibutuhkan. Program pembelajaran ini dinamakan Mainstreaming.
            Adapun program mainstreaming  ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu para pelajar berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk merasakan atmosfir belajar dalam ruangan dengan anak - anak normal lainnya. Selain itu, bagi anak - anak normal lainnya, mereka dapat merasakan bahwa anak - anak berkebutuhan khusus juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang baik selayaknya mereka dan anak - anak berkebutuhan khusus ini juga manusia dan mereka sudah selayaknya diperlakukan sebagai teman yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Bachri, Syamsul. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta; Prenada Media Group.
Lahey, Benjamin B. (2007). Psychology an Introduction (9th ed). New York; McGRAW-HILL.
N. L. Gage, David C. Berliner. 1998. Educational Psychlogy. Boston, New York; Houghton Mifflin Company.
Santrock, John W. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta; Salemba Humanika.
Soeitoe, Samuel. 1982. Psikologi Pendidikan untuk para Pendidik dan Calon Pendidik. Jakarta; Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI

Rabu, 21 Maret 2012

Pandangan Louis L. Thurstone terhadap Intelegensi


Nama Klompok :








Louis Thurstone Leon 1887-1955, lahir pada tanggal 29 Mei 1887 di Chicago.  Seorang pelopor Amerika  dalam psikometri (pengukuran mental). Thurstone lahir di Chicago keturunan Swedia, memperoleh gelar doktor di University of Chicago, dan mengajar di sana sampai ia pensiun ke Chapel Hill, North Carolina Sebelumnya ia pernah belajar sebagai seorang insinyur listrik, dan bekerja dengan Edison pada proyeksi cine, tetapi pada tahun 1914 ia beralih ke psikologi, dan menjadi terlibat dalam produksi tes untuk merekrut tentara dalam Perang Dunia Pertama. Thurstone bertanggung jawab atas rata-rata standar dan standar deviasi dari skor IQ digunakan saat ini, yang bertentangan dengan sistem Tes Kecerdasan awalnya digunakan oleh Alfred Binet. Ia juga dikenal untuk pengembangan skala Thurstone.

Thurstone  produktif dalam pembangunan tes kecerdasan dan karena ia tidak puas dengan definisi  kecerdasan saat ini, ia menerbitkan sebuah buku bijaksana, The Nature of Intelligence (1924). Ini dia didekati dari sudut  biologis. Pada 1930 ia diperebutkan pandangan Charles Spearman intelijen sebagai faktor 'g' (faktor kemampuan umum) yang dimana Faktor ‘g’ berhubungan dengan kemampuan menyelesaikan masalah atau tugas–tugas secara umum misalnya, kemampuan menyelesaikan soal–soal matematika,  Ia mengusulkan bahwa itu merupakan kombinasi dari kemampuan beberapa khas, misalnya pemahaman verbal, penalaran, memori. Dan ia digantikan teknik statistik Spearman mengukur gdengan prosedur yang jauh lebih fleksibel dikenal sebagai analisis faktor ganda, yang bisa menangani faktor kemampuan banyak secara bersamaan. Dengan tes utamanya kemampuan mental, dibangun untuk berbagai kelompok  umur, ia bisa mendapatkan profil dari kekuatan masing-masing orang dan kelemahannya. untuk bekerja pada analisis faktor bahwa dia adalah yang paling banyak dikenal, dan itu diterapkan oleh orang-orang  atau pengikut banyak dalam  masalah praktis misalnya :  mengisolasi jenis dibedakan yang utama dari penyakit mental, menganalisis kemampuan persepsi manusia, atau mengembangkan tes baru dari bakat khusus seperti kemampuan mekanis. 

   Louis Thurstone (1887-1955), yang menekankan pada aspek yang terbagi-bagi dari intelegensi. Thurstone menganggap bahwa intelegensi dapat dibagi menjadi sejumlah kemampuan primer. Menurut Thurstone, intelegensi umum yang dikemukakan oleh Spearman itu pada dasarnya terdiri dari 7 kemampuan primer yang dapat dibedakan dengan jelas serta dapat digali melalui tes intelegensi, yaitu :
1.      Pemahaman verbal (verbal comprehension), kemampuan memahami makna kata
2.     Kefasihan menggunakan kata-kata (word fluency), kemampuan memikirkan kata secara tepat seperti penukaran huruf dalam kata, sehingga kata itu mempunyai pengertian lain atau memikirkan kata-kata yang bersajak
3.    Kemampuan bilangan (numerical ability), kemampuan bekerja dengan angka dan melakukan perhitungan
4.    Kemampuan ruang (spatial factor), kemampuan memvisualisasi hubungan bentuk ruang, seperti mengenal gambar yang sama yang disajikan dengan sudut pandang yang berbeda
5.      Kemampuan mengingat (memory), kemampuan mengingat stimulus verbal
6.     Kecepatan pengamatan (perceptual speed), kemampuan menangkap rincian visual secara cepat serta melihat persamaan dan perbedaan di antara obyek yang tergambar
7.     Kemampuan penalaran (reasoning), kemampuan menemukan aturan umum berdasarkan contoh yang disajikan seperti menentukan bentuk keseluruhan rangkaian setelah disajikan sebagian dari rangkaian tersebut.

sumber :






Sabtu, 17 Maret 2012

Intelegensi




A. Defenisi Intelegensi
Berbicara mengenai intelegensi biasanya memang dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, kemampuan untuk belajar, ataupun kemampuan untuk berpikir abstrak. Perkataan intelegensi dari kata latin “intelligere” yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain.
Diantara bebrapa uraian ringkas mengenai teori intelegensi beserta tokohnya masing-masing sebagai berikut:
1.      Alfred Binet mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetik yaitu berkembang dari suatu faktor satuan. Menurutnya intelegensi merupakan sisa tunggal dari karekteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.
2.      Edward Lee Thorndike, teori Thorndike menyatakan bahwa intelegensi terdiri dari berbagai kemampuan spesifik yang ditampikan dalam wujud perilaku intelegensi.
3.      Robert J. Sternberg, teori ini mentikberatkan pada kesatuan dari berbagai aspek intelegensi sehingga teorinya teorinya lebih berorientasi pada proses. Teori ini disebut juga dengan Teori Intelegensi Triarchic. Teori ini berusaha menjelaskan secara terpadu hubungan antara:

Pengertian Inteligensi (Chaplin) 
 Dibagi dalam 3 macam :
  1. Kapasitas : keseluruhan kemampuan intelektualyang dimiliki oleh seseorang (sulit terukur)
  2. Potensi : Kemampuan intelektual seseorang yang seharusnya dapat ia tampilkan dan dikembangkan secara maksimal
  3. Fungsi : Penampilan tingkah laku seseorang yang menggambarkan tingkat kecerdasannya (bila fungsi berkembang max = potensi


B. Pendekatan Intelegensi 
Adapun dalam memahami hakikat intelegensi, Maloney dan Ward (1976) mengemukakakn empat pendekatan umum, yaitu.
  • Pendekatan Teori Belajar
Inti pendekatan ini mengenai masalah hakikat intelegensi terletak pada pemahaman mengenai hukum-hukum dan prinsip umum yang dipergunakan individu untuk memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru.
  •  Pendekatan Neurobiologis
Pendekatan ini beranggapan bahwa intelegensi memiliki dasar anatomis dan biologis. Perilaku intelegensi menurut pendekatan ini dapat ditelusuri dasar-dasar neuro-anatomis dan neuro-fisiologisnya.
  •  Pendekatan Psikomotorik
Pendekatan ini beranggapan bahwa intelegensi merupakan suatu konstrak atau sifat psikologis yang berbeda-beda kadarnya bagi setiap dua arah study, yaitu.
-      Bersifat praktis yang menekankan pada pemecahan masalah
   Bersifat teoritis yang menekankan pada konsep dan penyusunan teori
  •  Pendekatan Teori Perkembangan
Dalam pendekatan ini, studi intelegensi dipusatkan pada masalah perkembangan intelegensi secara kuantitatif dalam kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis individu. 
C. Perbedaan Intelegensi, IQ, Bakat dan Kreativitas
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

sumber :


Kamis, 29 Maret 2012

Penerapan Psikologi dalam Pendidikan

Diposting oleh Hikmah Nasution di 18.16 1 komentar Link ke posting ini

      Penerapan Psikologi dalam Pendidikan
Pendidikan umum didirikan sebagai penerapan dari prinsip Thomas Jefferson yang menyatakan bahwa setiap penduduk Amerika harus memiliki kesetaraan di bidang pendidikan selayaknya kesempatan berpolitik. Hal ini dikarenakan para penduduk membutuhkan pendidikan untuk membekali mereka dalam lembaga - lembaga demokratus. Kemudian, oleh karena alasan inilah, sistem pendidikan ini harus bisa diterapkan oleh setiap anak Amerika dengan tanpa memandang ras apapun. Kemudian, penemuan - penemuan terbaru yang penting dalam psikologi pendidikan telah menjadi sesuatu yang dapat membantu anak - anak mendapatkan keuntungan lebih dari waktu mereka di sekolah, mendapatkan pendekatan pembelajaran secara menyeluruh, metode efektif dalam mendidik anak - anak yang kurang mampu, perkembangan dari tes - tes yang lebih berarti, dan juga penerapan anak - anak dengan tantangan psikologi dan fisik nya menjadi mempunyai lingkungan kelas yang normal, yang dikenal sebagai belajar secara menyeluruh.
1.  Pembelajaran secara menyeluruh dan Sistem pengajaran yang menarik
            Seorang psikolog pendidikan, Benjamin Bloom memulai prinsip program pembelajaran secara menyeluruh (Mastery Learning) . Adapun program pembelajaran secara menyeluruh ini secara sederhana menyatakan bahwa anak - anak tidak boleh melangkah ke tahap pembelajaran selanjutnya sebelum mereka benar - benar menguasai program pembelajaran yang pertama. Contoh studi kasusnya, misalnya dalam sebuah ruangan kelas terdapat satu kelompok murid di mana mereka dilibatkan dalam suatu pembelajaran mengenai mekanik otomatis. Kemudian, pelajaran ini dibagi dalam delapan unit yang berbeda. Kemudian, setengah dari murid - murid ini diarahkan untuk belajar menurut jadwal. Sedangkan kelompok lainnya, yang merupakan kelompok yang diarahkan untuk menerapkan ilmu belajar secara menyeluruh ini, belajar menurut kemampuan mereka di mana mereka tidak boleh lanjut ke tahap pembelajaran selanjutnya sebelum mereka benar - benar menguasai unit sebelumnya. Setelah percobaan ini dilaksanakan, akhirnya didapatkan hasil bahwa kelompok yang menerapkan program pembelajaran secara menyeluruh atau mastery learning group  inilah yang mendapatkan hasil lebih baik dalam waktu bersamaan.
            Meskipun demikian, Bloom menyarankan bahwa program pembelajaran secara menyeluruh ini lebih efektif untuk anak - anak dengan kemapuan belajar lebih lambat.
                        Kemudian, perkembangan terbaru adalah belajar dari komputer yang tidak begitu mahal yang dapat digunakan di dalam kelas. Program pembelajaran ini dinamakan Sistem Pembelajaran yang Intelijen (Intelligent Tutoring Systems) . Di dalam program ITS, para pembelajar atau murid dapat menggunakan komputer tersebut untuk belajar. Komputer tersebut dapat memberikan instruksi atau pengarahan seputar cara penggunaan program pembelajaran tersebut. Kemudian, para pembelajar dapat menggunakan kemampuan mereka secara mandiri untuk mengakses program - program tersebut dan menjawab soal - soal latihan yang ada tanpa pengarah. Beda program ini dengan program biasa adalah program ini tidak memungkinkan sang pembelajar untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya tanpa penguasaan sepenuhnya dari tahap sebelumnya
2.  Perintah langsung (Direct Instruction)
            Pendekatan dengan menggunakan perintah langsung ini didasari oleh ide yang hampir sama dan menarik dengan yang ada pada sistem pembelajaran secara menyeluruh (mastery learning) . Prinsip perintah langsung (direct instruction)  ini didasari oleh beberapa strategi - strategi sebagai berikut :
·         Anak-anak yang dibimbing selama dalam proses belajar mengajarnya akan mempunyai kemampuan lebih untuk menemukan konsep - konsep dan ide - ide pada diri mereka sendiri.
·         Informasi - informasi baru dan juga kemampuan - kemampuan yang penting diharapkan dapat ditandai oleh murid - muridnya.
·         Informasi baru dipresentasikan kepada murid -murid dengan mennggunakan kalimat yang mudah dimengerti.
·         Anak - anak biasanya sering diajak untuk menjelaskan apa yang mereka pelajari, misalnya saja membaca atau menyelesaikan suatu permasalahan, bertujuan agar si guru dapat mengevaluasi hasil belajar mereka secara langsung daripada hanya secara tes atau tulisan.
·         Guru dapat juga secara berkala mendukung perkembangan yang positif untuk hasil belajar yang baik atau perbaikan secara lembut untuk hasil belajar yang dirasakan kurang baik.
            Pada pertengahan tahun 1960, sebuah penelitian besar yang diadakan oleh Pusat Pendidikan di Amerika bertujuan untuk menguji kelayakan sistem pengajaran bagi anak yang kurang mampu. Sembilan grup peneliti dibiayai untuk mendisain dan menerapkan apa yang menurut mereka sebagai program pendidikan yang ideal dan beberapa grup penelitian yang diambil secara acak diajak untuk menguji kelayakan program belajar itu. Penelitian pendidikan besar ini yang melibatkan lebih dari sepuluh ribu anak - anak dari berbagai negara dinamakan Project Follow Through . Sembilan projek ini sebenarnya sangat berbeda dalam konteks filosofi pendidikan yang sebenarnya dan juga merupakan projek yang tidak berhasil dalam mengembangkan program pendidikan. Adapun projek yang paling berhasil adalah dengan menggunakan perintah langsung untuk mengembangkan anak-anak kurang mampu.

3.  Pembelajaran dengan memotivasi dalam kelas (Motivating Learning in the Classroom)
Pembelajaran secara memotivasi ini menggunakan pendekatan secara ekstrinsik dan intrinsik. Pendekatan secara ekstrinsik, misalnya saja dengan menggunakan pujian atau motivasi dari guru. Pendekatan secara intrinsik, misalnya ketika guru menjelaskan apa fungsi belajar daripada hanya menekankan kepada nilai bagus yang akan dicapai murid jika mereka dapat belajar dengan baik. Dengan menggunakan pendekatan secara intrinsik ini, tentunya para murid dapat belajar dengan hasil yang lebih baik. Persamaannya, murid - murid yang diijinkan untuk memilih mata pelajaran mereka sendiri diantara beberapa mata pelajaran pilihan mendapatkan ilmu lebih banyak dari proses pembelajaran mereka sendiri. Kesimpulannya, program - program pendidikan yang dapat menyeimbangkan motivasi ekstrinsik dan intrinsik ini mempunyai keefektifan yang baik di dalam kelas.
4.  Pengujian dengan kriteria dan referensi ( Criterion - Referenced Testing )
Pada pendekatan tradisional untuk menguji program pendidikan, anak - anak biasanya dibandingkan dengan anak lainnya. Misalnya saja, suatu tes bersifat tradisional dalam pelajaran aritmatika yang membutuhkan anak - anak untuk menghadapi banyak soal menggunakan angka. Kemudian, anak - anak yang mampu menyelesaikan program tersebut dikategorikan sebagai anak - anak yang berada dalam level “mampu”. Tujuan dari program pengujian dengan kriteria dan referensi ini adalah bukan untuk membandingkan seorang anak dengan anak lainnya, namun lebih kepada untuk menentukan apakah seorang anak dapat memenuhi kriteria minimum untuk suatu program edukasi yang bersifat spesifik. Biasanya, program - program ini dapat dipraktekkan secara langsung. Misalnya saja, dalam suatu pengujian, seorang anak diberikan kesempatan untuk mengisi formulir lamaran kerja seperti yang biasanya dibutuhkan oleh seorang pelamar kerja. Tujuan dari pengujian ini bukanlah hanya semata - mata membandingkan kemampuan si anak dengan kemampuan anak lain, namun tujuan nya adalah lebih untuk mengetahui sampai di mana kemampuan si anak dalam hal ini. Apabila si anak belum mengetahui cara mengisi formulir ini dengan tepat, maka tentu guru yang bertanggung jawab akan mengajarinya hingga ia mampu mengisi formulir lamaran kerja dengan sendirinya.
Program pengujian secara menyeluruh ini pun sebenarnya bertujuan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh guru untuk mengembangkan program pendidikan nya. Jika pengujian ini berhasil dilakukan, maka tentunya para pendidik atau guru dapat mendapatkan komentar atau feedback dari pengujian yang telah dilakukan. Pengujian ini juga dapat dijadikan sebagai bahan instropeksi untuk si guru dalam mendidik muridnya.
Program pengujian ini di kemudian hari pun mulai dipikirkan sebagai bahan pengujian untuk menentukan apakah seorang anak dapat dipromosi kan dari level yang satu ke level berikutnya. Ada dua pendapat di dalam menentukan kelayakan sistem pengujian ini, di antaranya adalah :
*      Anak - anak ataupun pelajar yang berasal dari luar wilayah Amerika Serikat kemungkinan hanya mendapatkan sedikit info mengenai sistem pengujian ini. Sistem pengujian ini tidak selalu adil bagi anak - anak yang datang dari berbagai budaya di Amerika Serikat.
*      Sistem pengujian ini memungkinkan anak - anak yang mempunyai tingkat intelijensi lebih tinggi dapat lebih memahami pertanyaan - pertanyaan dan mendapatkan nilai yang lebih baik. Hal ini berarti bahwa sitem penilaian ini cenderung menyudutkan anak - anak yang mempunyai tingkat intelijensi yang lebih rendah.
5.  Pendidikan untuk orang - orang berkebutuhan khusus ( Mainstreaming )
Pada periode tahun 1970 - an, kebijakan pendidikan yang diumumkan oleh legislasi federal atau yang lebih dikenal sebagai Public Law 94 - 142  menyatakan bahwa setiap anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan secara umum tanpa melihat kebutuhan khusus nya. Ini berarti bahwa sekarang, anak - anak yang berkebutuhan khusus dapat mengakses pendidikan umum dalam kualitas yang lebih baik dari masa sebelumnya.
            Kemudian, Public Law 94 - 142  dan pendukungnya, program IDEA atau yang lebih dikenal sebagai program pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus, menyatakan bahwa anak - anak yang memiliki kebutuhan khusus harus menerima bantuan edukasi dan psikologi di dalam lingkungannya yang menyerupai program pendidikan yang biasanya diterima oleh anak - anak normal lain dalam lingkungannya. Oleh karena itu, anak - anak yang berkebutuhan khusus tidak boleh lagi diisolasi sebab mereka mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan tersebut dalam sekolah - sekolah normal biasanya dan memungkinkan mereka untuk berinteraksi satu sama lainnya dengan baik. Kemudian, jika memungkinkan, anak - anak yang berkebutuhan khusus harus ditempatkan di dalam sebuah ruangan kelas untuk belajar dengan anak - anak normal lainnya dan hanya akan dipindahkan atau dibantu jika hal ini benar - benar dibutuhkan. Program pembelajaran ini dinamakan Mainstreaming.
            Adapun program mainstreaming  ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu para pelajar berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk merasakan atmosfir belajar dalam ruangan dengan anak - anak normal lainnya. Selain itu, bagi anak - anak normal lainnya, mereka dapat merasakan bahwa anak - anak berkebutuhan khusus juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang baik selayaknya mereka dan anak - anak berkebutuhan khusus ini juga manusia dan mereka sudah selayaknya diperlakukan sebagai teman yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Bachri, Syamsul. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta; Prenada Media Group.
Lahey, Benjamin B. (2007). Psychology an Introduction (9th ed). New York; McGRAW-HILL.
N. L. Gage, David C. Berliner. 1998. Educational Psychlogy. Boston, New York; Houghton Mifflin Company.
Santrock, John W. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta; Salemba Humanika.
Soeitoe, Samuel. 1982. Psikologi Pendidikan untuk para Pendidik dan Calon Pendidik. Jakarta; Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI

Rabu, 21 Maret 2012

Pandangan Louis L. Thurstone terhadap Intelegensi

Diposting oleh Hikmah Nasution di 08.02 0 komentar Link ke posting ini

Nama Klompok :








Louis Thurstone Leon 1887-1955, lahir pada tanggal 29 Mei 1887 di Chicago.  Seorang pelopor Amerika  dalam psikometri (pengukuran mental). Thurstone lahir di Chicago keturunan Swedia, memperoleh gelar doktor di University of Chicago, dan mengajar di sana sampai ia pensiun ke Chapel Hill, North Carolina Sebelumnya ia pernah belajar sebagai seorang insinyur listrik, dan bekerja dengan Edison pada proyeksi cine, tetapi pada tahun 1914 ia beralih ke psikologi, dan menjadi terlibat dalam produksi tes untuk merekrut tentara dalam Perang Dunia Pertama. Thurstone bertanggung jawab atas rata-rata standar dan standar deviasi dari skor IQ digunakan saat ini, yang bertentangan dengan sistem Tes Kecerdasan awalnya digunakan oleh Alfred Binet. Ia juga dikenal untuk pengembangan skala Thurstone.

Thurstone  produktif dalam pembangunan tes kecerdasan dan karena ia tidak puas dengan definisi  kecerdasan saat ini, ia menerbitkan sebuah buku bijaksana, The Nature of Intelligence (1924). Ini dia didekati dari sudut  biologis. Pada 1930 ia diperebutkan pandangan Charles Spearman intelijen sebagai faktor 'g' (faktor kemampuan umum) yang dimana Faktor ‘g’ berhubungan dengan kemampuan menyelesaikan masalah atau tugas–tugas secara umum misalnya, kemampuan menyelesaikan soal–soal matematika,  Ia mengusulkan bahwa itu merupakan kombinasi dari kemampuan beberapa khas, misalnya pemahaman verbal, penalaran, memori. Dan ia digantikan teknik statistik Spearman mengukur gdengan prosedur yang jauh lebih fleksibel dikenal sebagai analisis faktor ganda, yang bisa menangani faktor kemampuan banyak secara bersamaan. Dengan tes utamanya kemampuan mental, dibangun untuk berbagai kelompok  umur, ia bisa mendapatkan profil dari kekuatan masing-masing orang dan kelemahannya. untuk bekerja pada analisis faktor bahwa dia adalah yang paling banyak dikenal, dan itu diterapkan oleh orang-orang  atau pengikut banyak dalam  masalah praktis misalnya :  mengisolasi jenis dibedakan yang utama dari penyakit mental, menganalisis kemampuan persepsi manusia, atau mengembangkan tes baru dari bakat khusus seperti kemampuan mekanis. 

   Louis Thurstone (1887-1955), yang menekankan pada aspek yang terbagi-bagi dari intelegensi. Thurstone menganggap bahwa intelegensi dapat dibagi menjadi sejumlah kemampuan primer. Menurut Thurstone, intelegensi umum yang dikemukakan oleh Spearman itu pada dasarnya terdiri dari 7 kemampuan primer yang dapat dibedakan dengan jelas serta dapat digali melalui tes intelegensi, yaitu :
1.      Pemahaman verbal (verbal comprehension), kemampuan memahami makna kata
2.     Kefasihan menggunakan kata-kata (word fluency), kemampuan memikirkan kata secara tepat seperti penukaran huruf dalam kata, sehingga kata itu mempunyai pengertian lain atau memikirkan kata-kata yang bersajak
3.    Kemampuan bilangan (numerical ability), kemampuan bekerja dengan angka dan melakukan perhitungan
4.    Kemampuan ruang (spatial factor), kemampuan memvisualisasi hubungan bentuk ruang, seperti mengenal gambar yang sama yang disajikan dengan sudut pandang yang berbeda
5.      Kemampuan mengingat (memory), kemampuan mengingat stimulus verbal
6.     Kecepatan pengamatan (perceptual speed), kemampuan menangkap rincian visual secara cepat serta melihat persamaan dan perbedaan di antara obyek yang tergambar
7.     Kemampuan penalaran (reasoning), kemampuan menemukan aturan umum berdasarkan contoh yang disajikan seperti menentukan bentuk keseluruhan rangkaian setelah disajikan sebagian dari rangkaian tersebut.

sumber :






Sabtu, 17 Maret 2012

Intelegensi

Diposting oleh Hikmah Nasution di 03.20 0 komentar Link ke posting ini



A. Defenisi Intelegensi
Berbicara mengenai intelegensi biasanya memang dikaitkan dengan kemampuan untuk pemecahan masalah, kemampuan untuk belajar, ataupun kemampuan untuk berpikir abstrak. Perkataan intelegensi dari kata latin “intelligere” yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain.
Diantara bebrapa uraian ringkas mengenai teori intelegensi beserta tokohnya masing-masing sebagai berikut:
1.      Alfred Binet mengatakan bahwa intelegensi bersifat monogenetik yaitu berkembang dari suatu faktor satuan. Menurutnya intelegensi merupakan sisa tunggal dari karekteristik yang terus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.
2.      Edward Lee Thorndike, teori Thorndike menyatakan bahwa intelegensi terdiri dari berbagai kemampuan spesifik yang ditampikan dalam wujud perilaku intelegensi.
3.      Robert J. Sternberg, teori ini mentikberatkan pada kesatuan dari berbagai aspek intelegensi sehingga teorinya teorinya lebih berorientasi pada proses. Teori ini disebut juga dengan Teori Intelegensi Triarchic. Teori ini berusaha menjelaskan secara terpadu hubungan antara:

Pengertian Inteligensi (Chaplin) 
 Dibagi dalam 3 macam :
  1. Kapasitas : keseluruhan kemampuan intelektualyang dimiliki oleh seseorang (sulit terukur)
  2. Potensi : Kemampuan intelektual seseorang yang seharusnya dapat ia tampilkan dan dikembangkan secara maksimal
  3. Fungsi : Penampilan tingkah laku seseorang yang menggambarkan tingkat kecerdasannya (bila fungsi berkembang max = potensi


B. Pendekatan Intelegensi 
Adapun dalam memahami hakikat intelegensi, Maloney dan Ward (1976) mengemukakakn empat pendekatan umum, yaitu.
  • Pendekatan Teori Belajar
Inti pendekatan ini mengenai masalah hakikat intelegensi terletak pada pemahaman mengenai hukum-hukum dan prinsip umum yang dipergunakan individu untuk memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru.
  •  Pendekatan Neurobiologis
Pendekatan ini beranggapan bahwa intelegensi memiliki dasar anatomis dan biologis. Perilaku intelegensi menurut pendekatan ini dapat ditelusuri dasar-dasar neuro-anatomis dan neuro-fisiologisnya.
  •  Pendekatan Psikomotorik
Pendekatan ini beranggapan bahwa intelegensi merupakan suatu konstrak atau sifat psikologis yang berbeda-beda kadarnya bagi setiap dua arah study, yaitu.
-      Bersifat praktis yang menekankan pada pemecahan masalah
   Bersifat teoritis yang menekankan pada konsep dan penyusunan teori
  •  Pendekatan Teori Perkembangan
Dalam pendekatan ini, studi intelegensi dipusatkan pada masalah perkembangan intelegensi secara kuantitatif dalam kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis individu. 
C. Perbedaan Intelegensi, IQ, Bakat dan Kreativitas
Inteligensi dan IQ
Orang seringkali menyamakan arti inteligensi dengan IQ, padahal kedua istilah ini mempunyai perbedaan arti yang sangat mendasar. Arti inteligensi sudah dijelaskan di depan, sedangkan IQ atau tingkatan dari Intelligence Quotient, adalah skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Dengan demikian, IQ hanya memberikan sedikit indikasi mengenai taraf kecerdasan seseorang dan tidak menggambarkan kecerdasan seseorang secara keseluruhan.
Inteligensi dan Bakat
Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang amat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik ini memberikan pada individu suatu kondisi yang memungkinkan tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau ketrampilan tertentu setelah melalui suatu latihan. Inilah yang disebut Bakat atau Aptitude. Karena suatu tes inteligensi tidak dirancang untuk menyingkap kemampuan-kemampuan khusus ini, maka bakat tidak dapat segera diketahui lewat tes inteligensi.
Inteligensi dan Kreativitas
Kreativitas merupakan salah satu ciri dari perilaku yang inteligen karena kreativitas juga merupakan manifestasi dari suatu proses kognitif. Meskipun demikian, hubungan antara kreativitas dan inteligensi tidak selalu menunjukkan bukti-bukti yang memuaskan. Walau ada anggapan bahwa kreativitas mempunyai hubungan yang bersifat kurva linear dengan inteligensi, tapi bukti-bukti yang diperoleh dari berbagai penelitian tidak mendukung hal itu. Skor IQ yang rendah memang diikuti oleh tingkat kreativitas yang rendah pula. Namun semakin tinggi skor IQ, tidak selalu diikuti tingkat kreativitas yang tinggi pula. Sampai pada skor IQ tertentu, masih terdapat korelasi yang cukup berarti. Tetapi lebih tinggi lagi, ternyata tidak ditemukan adanya hubungan antara IQ dengan tingkat kreativitas.

sumber :