Pages

Kamis, 29 Maret 2012

Penerapan Psikologi dalam Pendidikan


      Penerapan Psikologi dalam Pendidikan
Pendidikan umum didirikan sebagai penerapan dari prinsip Thomas Jefferson yang menyatakan bahwa setiap penduduk Amerika harus memiliki kesetaraan di bidang pendidikan selayaknya kesempatan berpolitik. Hal ini dikarenakan para penduduk membutuhkan pendidikan untuk membekali mereka dalam lembaga - lembaga demokratus. Kemudian, oleh karena alasan inilah, sistem pendidikan ini harus bisa diterapkan oleh setiap anak Amerika dengan tanpa memandang ras apapun. Kemudian, penemuan - penemuan terbaru yang penting dalam psikologi pendidikan telah menjadi sesuatu yang dapat membantu anak - anak mendapatkan keuntungan lebih dari waktu mereka di sekolah, mendapatkan pendekatan pembelajaran secara menyeluruh, metode efektif dalam mendidik anak - anak yang kurang mampu, perkembangan dari tes - tes yang lebih berarti, dan juga penerapan anak - anak dengan tantangan psikologi dan fisik nya menjadi mempunyai lingkungan kelas yang normal, yang dikenal sebagai belajar secara menyeluruh.
1.  Pembelajaran secara menyeluruh dan Sistem pengajaran yang menarik
            Seorang psikolog pendidikan, Benjamin Bloom memulai prinsip program pembelajaran secara menyeluruh (Mastery Learning) . Adapun program pembelajaran secara menyeluruh ini secara sederhana menyatakan bahwa anak - anak tidak boleh melangkah ke tahap pembelajaran selanjutnya sebelum mereka benar - benar menguasai program pembelajaran yang pertama. Contoh studi kasusnya, misalnya dalam sebuah ruangan kelas terdapat satu kelompok murid di mana mereka dilibatkan dalam suatu pembelajaran mengenai mekanik otomatis. Kemudian, pelajaran ini dibagi dalam delapan unit yang berbeda. Kemudian, setengah dari murid - murid ini diarahkan untuk belajar menurut jadwal. Sedangkan kelompok lainnya, yang merupakan kelompok yang diarahkan untuk menerapkan ilmu belajar secara menyeluruh ini, belajar menurut kemampuan mereka di mana mereka tidak boleh lanjut ke tahap pembelajaran selanjutnya sebelum mereka benar - benar menguasai unit sebelumnya. Setelah percobaan ini dilaksanakan, akhirnya didapatkan hasil bahwa kelompok yang menerapkan program pembelajaran secara menyeluruh atau mastery learning group  inilah yang mendapatkan hasil lebih baik dalam waktu bersamaan.
            Meskipun demikian, Bloom menyarankan bahwa program pembelajaran secara menyeluruh ini lebih efektif untuk anak - anak dengan kemapuan belajar lebih lambat.
                        Kemudian, perkembangan terbaru adalah belajar dari komputer yang tidak begitu mahal yang dapat digunakan di dalam kelas. Program pembelajaran ini dinamakan Sistem Pembelajaran yang Intelijen (Intelligent Tutoring Systems) . Di dalam program ITS, para pembelajar atau murid dapat menggunakan komputer tersebut untuk belajar. Komputer tersebut dapat memberikan instruksi atau pengarahan seputar cara penggunaan program pembelajaran tersebut. Kemudian, para pembelajar dapat menggunakan kemampuan mereka secara mandiri untuk mengakses program - program tersebut dan menjawab soal - soal latihan yang ada tanpa pengarah. Beda program ini dengan program biasa adalah program ini tidak memungkinkan sang pembelajar untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya tanpa penguasaan sepenuhnya dari tahap sebelumnya
2.  Perintah langsung (Direct Instruction)
            Pendekatan dengan menggunakan perintah langsung ini didasari oleh ide yang hampir sama dan menarik dengan yang ada pada sistem pembelajaran secara menyeluruh (mastery learning) . Prinsip perintah langsung (direct instruction)  ini didasari oleh beberapa strategi - strategi sebagai berikut :
·         Anak-anak yang dibimbing selama dalam proses belajar mengajarnya akan mempunyai kemampuan lebih untuk menemukan konsep - konsep dan ide - ide pada diri mereka sendiri.
·         Informasi - informasi baru dan juga kemampuan - kemampuan yang penting diharapkan dapat ditandai oleh murid - muridnya.
·         Informasi baru dipresentasikan kepada murid -murid dengan mennggunakan kalimat yang mudah dimengerti.
·         Anak - anak biasanya sering diajak untuk menjelaskan apa yang mereka pelajari, misalnya saja membaca atau menyelesaikan suatu permasalahan, bertujuan agar si guru dapat mengevaluasi hasil belajar mereka secara langsung daripada hanya secara tes atau tulisan.
·         Guru dapat juga secara berkala mendukung perkembangan yang positif untuk hasil belajar yang baik atau perbaikan secara lembut untuk hasil belajar yang dirasakan kurang baik.
            Pada pertengahan tahun 1960, sebuah penelitian besar yang diadakan oleh Pusat Pendidikan di Amerika bertujuan untuk menguji kelayakan sistem pengajaran bagi anak yang kurang mampu. Sembilan grup peneliti dibiayai untuk mendisain dan menerapkan apa yang menurut mereka sebagai program pendidikan yang ideal dan beberapa grup penelitian yang diambil secara acak diajak untuk menguji kelayakan program belajar itu. Penelitian pendidikan besar ini yang melibatkan lebih dari sepuluh ribu anak - anak dari berbagai negara dinamakan Project Follow Through . Sembilan projek ini sebenarnya sangat berbeda dalam konteks filosofi pendidikan yang sebenarnya dan juga merupakan projek yang tidak berhasil dalam mengembangkan program pendidikan. Adapun projek yang paling berhasil adalah dengan menggunakan perintah langsung untuk mengembangkan anak-anak kurang mampu.

3.  Pembelajaran dengan memotivasi dalam kelas (Motivating Learning in the Classroom)
Pembelajaran secara memotivasi ini menggunakan pendekatan secara ekstrinsik dan intrinsik. Pendekatan secara ekstrinsik, misalnya saja dengan menggunakan pujian atau motivasi dari guru. Pendekatan secara intrinsik, misalnya ketika guru menjelaskan apa fungsi belajar daripada hanya menekankan kepada nilai bagus yang akan dicapai murid jika mereka dapat belajar dengan baik. Dengan menggunakan pendekatan secara intrinsik ini, tentunya para murid dapat belajar dengan hasil yang lebih baik. Persamaannya, murid - murid yang diijinkan untuk memilih mata pelajaran mereka sendiri diantara beberapa mata pelajaran pilihan mendapatkan ilmu lebih banyak dari proses pembelajaran mereka sendiri. Kesimpulannya, program - program pendidikan yang dapat menyeimbangkan motivasi ekstrinsik dan intrinsik ini mempunyai keefektifan yang baik di dalam kelas.
4.  Pengujian dengan kriteria dan referensi ( Criterion - Referenced Testing )
Pada pendekatan tradisional untuk menguji program pendidikan, anak - anak biasanya dibandingkan dengan anak lainnya. Misalnya saja, suatu tes bersifat tradisional dalam pelajaran aritmatika yang membutuhkan anak - anak untuk menghadapi banyak soal menggunakan angka. Kemudian, anak - anak yang mampu menyelesaikan program tersebut dikategorikan sebagai anak - anak yang berada dalam level “mampu”. Tujuan dari program pengujian dengan kriteria dan referensi ini adalah bukan untuk membandingkan seorang anak dengan anak lainnya, namun lebih kepada untuk menentukan apakah seorang anak dapat memenuhi kriteria minimum untuk suatu program edukasi yang bersifat spesifik. Biasanya, program - program ini dapat dipraktekkan secara langsung. Misalnya saja, dalam suatu pengujian, seorang anak diberikan kesempatan untuk mengisi formulir lamaran kerja seperti yang biasanya dibutuhkan oleh seorang pelamar kerja. Tujuan dari pengujian ini bukanlah hanya semata - mata membandingkan kemampuan si anak dengan kemampuan anak lain, namun tujuan nya adalah lebih untuk mengetahui sampai di mana kemampuan si anak dalam hal ini. Apabila si anak belum mengetahui cara mengisi formulir ini dengan tepat, maka tentu guru yang bertanggung jawab akan mengajarinya hingga ia mampu mengisi formulir lamaran kerja dengan sendirinya.
Program pengujian secara menyeluruh ini pun sebenarnya bertujuan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh guru untuk mengembangkan program pendidikan nya. Jika pengujian ini berhasil dilakukan, maka tentunya para pendidik atau guru dapat mendapatkan komentar atau feedback dari pengujian yang telah dilakukan. Pengujian ini juga dapat dijadikan sebagai bahan instropeksi untuk si guru dalam mendidik muridnya.
Program pengujian ini di kemudian hari pun mulai dipikirkan sebagai bahan pengujian untuk menentukan apakah seorang anak dapat dipromosi kan dari level yang satu ke level berikutnya. Ada dua pendapat di dalam menentukan kelayakan sistem pengujian ini, di antaranya adalah :
*      Anak - anak ataupun pelajar yang berasal dari luar wilayah Amerika Serikat kemungkinan hanya mendapatkan sedikit info mengenai sistem pengujian ini. Sistem pengujian ini tidak selalu adil bagi anak - anak yang datang dari berbagai budaya di Amerika Serikat.
*      Sistem pengujian ini memungkinkan anak - anak yang mempunyai tingkat intelijensi lebih tinggi dapat lebih memahami pertanyaan - pertanyaan dan mendapatkan nilai yang lebih baik. Hal ini berarti bahwa sitem penilaian ini cenderung menyudutkan anak - anak yang mempunyai tingkat intelijensi yang lebih rendah.
5.  Pendidikan untuk orang - orang berkebutuhan khusus ( Mainstreaming )
Pada periode tahun 1970 - an, kebijakan pendidikan yang diumumkan oleh legislasi federal atau yang lebih dikenal sebagai Public Law 94 - 142  menyatakan bahwa setiap anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan secara umum tanpa melihat kebutuhan khusus nya. Ini berarti bahwa sekarang, anak - anak yang berkebutuhan khusus dapat mengakses pendidikan umum dalam kualitas yang lebih baik dari masa sebelumnya.
            Kemudian, Public Law 94 - 142  dan pendukungnya, program IDEA atau yang lebih dikenal sebagai program pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus, menyatakan bahwa anak - anak yang memiliki kebutuhan khusus harus menerima bantuan edukasi dan psikologi di dalam lingkungannya yang menyerupai program pendidikan yang biasanya diterima oleh anak - anak normal lain dalam lingkungannya. Oleh karena itu, anak - anak yang berkebutuhan khusus tidak boleh lagi diisolasi sebab mereka mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan tersebut dalam sekolah - sekolah normal biasanya dan memungkinkan mereka untuk berinteraksi satu sama lainnya dengan baik. Kemudian, jika memungkinkan, anak - anak yang berkebutuhan khusus harus ditempatkan di dalam sebuah ruangan kelas untuk belajar dengan anak - anak normal lainnya dan hanya akan dipindahkan atau dibantu jika hal ini benar - benar dibutuhkan. Program pembelajaran ini dinamakan Mainstreaming.
            Adapun program mainstreaming  ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu para pelajar berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk merasakan atmosfir belajar dalam ruangan dengan anak - anak normal lainnya. Selain itu, bagi anak - anak normal lainnya, mereka dapat merasakan bahwa anak - anak berkebutuhan khusus juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang baik selayaknya mereka dan anak - anak berkebutuhan khusus ini juga manusia dan mereka sudah selayaknya diperlakukan sebagai teman yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Bachri, Syamsul. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta; Prenada Media Group.
Lahey, Benjamin B. (2007). Psychology an Introduction (9th ed). New York; McGRAW-HILL.
N. L. Gage, David C. Berliner. 1998. Educational Psychlogy. Boston, New York; Houghton Mifflin Company.
Santrock, John W. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta; Salemba Humanika.
Soeitoe, Samuel. 1982. Psikologi Pendidikan untuk para Pendidik dan Calon Pendidik. Jakarta; Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI

0 komentar:

Poskan Komentar

Kamis, 29 Maret 2012

Penerapan Psikologi dalam Pendidikan

Diposkan oleh Hikmah Nasution di 18.16

      Penerapan Psikologi dalam Pendidikan
Pendidikan umum didirikan sebagai penerapan dari prinsip Thomas Jefferson yang menyatakan bahwa setiap penduduk Amerika harus memiliki kesetaraan di bidang pendidikan selayaknya kesempatan berpolitik. Hal ini dikarenakan para penduduk membutuhkan pendidikan untuk membekali mereka dalam lembaga - lembaga demokratus. Kemudian, oleh karena alasan inilah, sistem pendidikan ini harus bisa diterapkan oleh setiap anak Amerika dengan tanpa memandang ras apapun. Kemudian, penemuan - penemuan terbaru yang penting dalam psikologi pendidikan telah menjadi sesuatu yang dapat membantu anak - anak mendapatkan keuntungan lebih dari waktu mereka di sekolah, mendapatkan pendekatan pembelajaran secara menyeluruh, metode efektif dalam mendidik anak - anak yang kurang mampu, perkembangan dari tes - tes yang lebih berarti, dan juga penerapan anak - anak dengan tantangan psikologi dan fisik nya menjadi mempunyai lingkungan kelas yang normal, yang dikenal sebagai belajar secara menyeluruh.
1.  Pembelajaran secara menyeluruh dan Sistem pengajaran yang menarik
            Seorang psikolog pendidikan, Benjamin Bloom memulai prinsip program pembelajaran secara menyeluruh (Mastery Learning) . Adapun program pembelajaran secara menyeluruh ini secara sederhana menyatakan bahwa anak - anak tidak boleh melangkah ke tahap pembelajaran selanjutnya sebelum mereka benar - benar menguasai program pembelajaran yang pertama. Contoh studi kasusnya, misalnya dalam sebuah ruangan kelas terdapat satu kelompok murid di mana mereka dilibatkan dalam suatu pembelajaran mengenai mekanik otomatis. Kemudian, pelajaran ini dibagi dalam delapan unit yang berbeda. Kemudian, setengah dari murid - murid ini diarahkan untuk belajar menurut jadwal. Sedangkan kelompok lainnya, yang merupakan kelompok yang diarahkan untuk menerapkan ilmu belajar secara menyeluruh ini, belajar menurut kemampuan mereka di mana mereka tidak boleh lanjut ke tahap pembelajaran selanjutnya sebelum mereka benar - benar menguasai unit sebelumnya. Setelah percobaan ini dilaksanakan, akhirnya didapatkan hasil bahwa kelompok yang menerapkan program pembelajaran secara menyeluruh atau mastery learning group  inilah yang mendapatkan hasil lebih baik dalam waktu bersamaan.
            Meskipun demikian, Bloom menyarankan bahwa program pembelajaran secara menyeluruh ini lebih efektif untuk anak - anak dengan kemapuan belajar lebih lambat.
                        Kemudian, perkembangan terbaru adalah belajar dari komputer yang tidak begitu mahal yang dapat digunakan di dalam kelas. Program pembelajaran ini dinamakan Sistem Pembelajaran yang Intelijen (Intelligent Tutoring Systems) . Di dalam program ITS, para pembelajar atau murid dapat menggunakan komputer tersebut untuk belajar. Komputer tersebut dapat memberikan instruksi atau pengarahan seputar cara penggunaan program pembelajaran tersebut. Kemudian, para pembelajar dapat menggunakan kemampuan mereka secara mandiri untuk mengakses program - program tersebut dan menjawab soal - soal latihan yang ada tanpa pengarah. Beda program ini dengan program biasa adalah program ini tidak memungkinkan sang pembelajar untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya tanpa penguasaan sepenuhnya dari tahap sebelumnya
2.  Perintah langsung (Direct Instruction)
            Pendekatan dengan menggunakan perintah langsung ini didasari oleh ide yang hampir sama dan menarik dengan yang ada pada sistem pembelajaran secara menyeluruh (mastery learning) . Prinsip perintah langsung (direct instruction)  ini didasari oleh beberapa strategi - strategi sebagai berikut :
·         Anak-anak yang dibimbing selama dalam proses belajar mengajarnya akan mempunyai kemampuan lebih untuk menemukan konsep - konsep dan ide - ide pada diri mereka sendiri.
·         Informasi - informasi baru dan juga kemampuan - kemampuan yang penting diharapkan dapat ditandai oleh murid - muridnya.
·         Informasi baru dipresentasikan kepada murid -murid dengan mennggunakan kalimat yang mudah dimengerti.
·         Anak - anak biasanya sering diajak untuk menjelaskan apa yang mereka pelajari, misalnya saja membaca atau menyelesaikan suatu permasalahan, bertujuan agar si guru dapat mengevaluasi hasil belajar mereka secara langsung daripada hanya secara tes atau tulisan.
·         Guru dapat juga secara berkala mendukung perkembangan yang positif untuk hasil belajar yang baik atau perbaikan secara lembut untuk hasil belajar yang dirasakan kurang baik.
            Pada pertengahan tahun 1960, sebuah penelitian besar yang diadakan oleh Pusat Pendidikan di Amerika bertujuan untuk menguji kelayakan sistem pengajaran bagi anak yang kurang mampu. Sembilan grup peneliti dibiayai untuk mendisain dan menerapkan apa yang menurut mereka sebagai program pendidikan yang ideal dan beberapa grup penelitian yang diambil secara acak diajak untuk menguji kelayakan program belajar itu. Penelitian pendidikan besar ini yang melibatkan lebih dari sepuluh ribu anak - anak dari berbagai negara dinamakan Project Follow Through . Sembilan projek ini sebenarnya sangat berbeda dalam konteks filosofi pendidikan yang sebenarnya dan juga merupakan projek yang tidak berhasil dalam mengembangkan program pendidikan. Adapun projek yang paling berhasil adalah dengan menggunakan perintah langsung untuk mengembangkan anak-anak kurang mampu.

3.  Pembelajaran dengan memotivasi dalam kelas (Motivating Learning in the Classroom)
Pembelajaran secara memotivasi ini menggunakan pendekatan secara ekstrinsik dan intrinsik. Pendekatan secara ekstrinsik, misalnya saja dengan menggunakan pujian atau motivasi dari guru. Pendekatan secara intrinsik, misalnya ketika guru menjelaskan apa fungsi belajar daripada hanya menekankan kepada nilai bagus yang akan dicapai murid jika mereka dapat belajar dengan baik. Dengan menggunakan pendekatan secara intrinsik ini, tentunya para murid dapat belajar dengan hasil yang lebih baik. Persamaannya, murid - murid yang diijinkan untuk memilih mata pelajaran mereka sendiri diantara beberapa mata pelajaran pilihan mendapatkan ilmu lebih banyak dari proses pembelajaran mereka sendiri. Kesimpulannya, program - program pendidikan yang dapat menyeimbangkan motivasi ekstrinsik dan intrinsik ini mempunyai keefektifan yang baik di dalam kelas.
4.  Pengujian dengan kriteria dan referensi ( Criterion - Referenced Testing )
Pada pendekatan tradisional untuk menguji program pendidikan, anak - anak biasanya dibandingkan dengan anak lainnya. Misalnya saja, suatu tes bersifat tradisional dalam pelajaran aritmatika yang membutuhkan anak - anak untuk menghadapi banyak soal menggunakan angka. Kemudian, anak - anak yang mampu menyelesaikan program tersebut dikategorikan sebagai anak - anak yang berada dalam level “mampu”. Tujuan dari program pengujian dengan kriteria dan referensi ini adalah bukan untuk membandingkan seorang anak dengan anak lainnya, namun lebih kepada untuk menentukan apakah seorang anak dapat memenuhi kriteria minimum untuk suatu program edukasi yang bersifat spesifik. Biasanya, program - program ini dapat dipraktekkan secara langsung. Misalnya saja, dalam suatu pengujian, seorang anak diberikan kesempatan untuk mengisi formulir lamaran kerja seperti yang biasanya dibutuhkan oleh seorang pelamar kerja. Tujuan dari pengujian ini bukanlah hanya semata - mata membandingkan kemampuan si anak dengan kemampuan anak lain, namun tujuan nya adalah lebih untuk mengetahui sampai di mana kemampuan si anak dalam hal ini. Apabila si anak belum mengetahui cara mengisi formulir ini dengan tepat, maka tentu guru yang bertanggung jawab akan mengajarinya hingga ia mampu mengisi formulir lamaran kerja dengan sendirinya.
Program pengujian secara menyeluruh ini pun sebenarnya bertujuan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan oleh guru untuk mengembangkan program pendidikan nya. Jika pengujian ini berhasil dilakukan, maka tentunya para pendidik atau guru dapat mendapatkan komentar atau feedback dari pengujian yang telah dilakukan. Pengujian ini juga dapat dijadikan sebagai bahan instropeksi untuk si guru dalam mendidik muridnya.
Program pengujian ini di kemudian hari pun mulai dipikirkan sebagai bahan pengujian untuk menentukan apakah seorang anak dapat dipromosi kan dari level yang satu ke level berikutnya. Ada dua pendapat di dalam menentukan kelayakan sistem pengujian ini, di antaranya adalah :
*      Anak - anak ataupun pelajar yang berasal dari luar wilayah Amerika Serikat kemungkinan hanya mendapatkan sedikit info mengenai sistem pengujian ini. Sistem pengujian ini tidak selalu adil bagi anak - anak yang datang dari berbagai budaya di Amerika Serikat.
*      Sistem pengujian ini memungkinkan anak - anak yang mempunyai tingkat intelijensi lebih tinggi dapat lebih memahami pertanyaan - pertanyaan dan mendapatkan nilai yang lebih baik. Hal ini berarti bahwa sitem penilaian ini cenderung menyudutkan anak - anak yang mempunyai tingkat intelijensi yang lebih rendah.
5.  Pendidikan untuk orang - orang berkebutuhan khusus ( Mainstreaming )
Pada periode tahun 1970 - an, kebijakan pendidikan yang diumumkan oleh legislasi federal atau yang lebih dikenal sebagai Public Law 94 - 142  menyatakan bahwa setiap anak mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan secara umum tanpa melihat kebutuhan khusus nya. Ini berarti bahwa sekarang, anak - anak yang berkebutuhan khusus dapat mengakses pendidikan umum dalam kualitas yang lebih baik dari masa sebelumnya.
            Kemudian, Public Law 94 - 142  dan pendukungnya, program IDEA atau yang lebih dikenal sebagai program pendidikan bagi anak yang berkebutuhan khusus, menyatakan bahwa anak - anak yang memiliki kebutuhan khusus harus menerima bantuan edukasi dan psikologi di dalam lingkungannya yang menyerupai program pendidikan yang biasanya diterima oleh anak - anak normal lain dalam lingkungannya. Oleh karena itu, anak - anak yang berkebutuhan khusus tidak boleh lagi diisolasi sebab mereka mempunyai hak untuk mendapatkan pendidikan tersebut dalam sekolah - sekolah normal biasanya dan memungkinkan mereka untuk berinteraksi satu sama lainnya dengan baik. Kemudian, jika memungkinkan, anak - anak yang berkebutuhan khusus harus ditempatkan di dalam sebuah ruangan kelas untuk belajar dengan anak - anak normal lainnya dan hanya akan dipindahkan atau dibantu jika hal ini benar - benar dibutuhkan. Program pembelajaran ini dinamakan Mainstreaming.
            Adapun program mainstreaming  ini mempunyai beberapa keuntungan, yaitu para pelajar berkebutuhan khusus mendapatkan kesempatan untuk merasakan atmosfir belajar dalam ruangan dengan anak - anak normal lainnya. Selain itu, bagi anak - anak normal lainnya, mereka dapat merasakan bahwa anak - anak berkebutuhan khusus juga berhak untuk mendapatkan pendidikan yang baik selayaknya mereka dan anak - anak berkebutuhan khusus ini juga manusia dan mereka sudah selayaknya diperlakukan sebagai teman yang baik.

DAFTAR PUSTAKA
Bachri, Syamsul. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif. Jakarta; Prenada Media Group.
Lahey, Benjamin B. (2007). Psychology an Introduction (9th ed). New York; McGRAW-HILL.
N. L. Gage, David C. Berliner. 1998. Educational Psychlogy. Boston, New York; Houghton Mifflin Company.
Santrock, John W. 2009. Psikologi Pendidikan. Jakarta; Salemba Humanika.
Soeitoe, Samuel. 1982. Psikologi Pendidikan untuk para Pendidik dan Calon Pendidik. Jakarta; Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI

0 komentar on "Penerapan Psikologi dalam Pendidikan"

Poskan Komentar