Pages

Minggu, 29 September 2013

BAB 3 - OTAK MANUSIA



Otak manusia adalah sistem alamiah yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam ini; kompleksitasnya menyamai dan mungkin melebihi kompleksitas struktur ekonomi dan sosial yang paling rumit sekalipun. Otak adalah bidang ilmu yang baru. (Goldberg, 2001) "

Pembentukan Otak

Pembentuk dasar otak adalah neuron, yang merupakan unit komunikasi, sel-sel glial, yang memberikan dukungan struktural untuk neuron. Masing-masing neuron terdiri dari satu sel dan kabel” komunikasi antar neuron dinamakan axon (“ekor panjang”) dan seperangkat dendrite atau cabang.
Saat perkembangan prenatal, kemunculan neuron  dan perjalanannya menuju lokasi otak adalah melalaui peristiwa-peristiwa dan proses yang terjadi pada waktu tertentu. Perkembangan ini dimulai pada akhir minggu ketiga masa kehamilan. Pada akhirnya, sekitar 50% akan berkembang menjadi sum-sum tulang belakang dan bagian kepala membentuk otak. Ketika telah terbentuk, tabung neurol ini tenggelam dibawah permukaan embrio dan tertanam didalam.

Kelahiran dan Migrasi Neuron

Setelah pembentukan jaringan neural, sebagian besar neuron lahir selama 100 hari pertama kehamilan di satu lokasi jaringan. Neuron-neuron itu kemudian berpindah menempuh jarak yang jauh. Beberapa neural hanya mampu menempuh jarak pendek dan disingkirkan oleh neuron di belakangnya. Neuron lain bergerak langsung menuju lokasi terjauh dan jarak yang ditempuh itu membutuhkan perjalanan puluhan ribu kali lipat dari panjang neuron. Jarak ini sama dengan jarak 25 kilometer bagi ukuran manusia.

Jaringan neural
Neuron terkoneksi dalam sirkuit dan masing-masing berfungsi sebagai penerima dan pengirim sinyal listrik dan kimia. Di dalam jaringan ini, individu membangun model internal dari dunia riil dan juga mengoordinasi rencana aksi pada dunia itu


Peran Neurotransmitter

Ketika satu neuron aktif, maka ia akan mengirimkan aliran listrik melewati axon ke synapse. Tindakan ini disebut "memantik". Waktu untuk memantikkan sinyal sekitar 10 mil detik, dan otak memproduksi jutaan pola ini di  sirkbesar. uit yang
Ketika aliran listrik sampai ke sinaps, ia kemudian dibawa melintasi synapse oleh cairan kimia yang disebut neurotransmitter. Proses ini berlangsung sangat cepat yaitu selama 1/10 juta detik. Efek neurotransmitter terhadap neuron penerima adalah menaikkan kemungkinan neuron itu teraktivasi atau menurunkan kemungkinan aktivasi.  Ada beberapa neurotransmitter di otak, salah satunya serotonin, yang memberikan konstribusi hampir semua aspek kognitif dan perilaku. dan  dopamin, yang berkontribusi dalam suasana hati.

Faktor yang Berpotensi Merusak

Perkembangan normal dapat terganggu oleh beberapa faktor. Misalnya kegagalan jaringan neural untuk menutup akan menyebabkan kondisi yang disebut spina bifida. Defisiensi vitamin asam folic pada makanan ibu hamil dapat menyebabkan cacat pada jaringan neural ini, termasuk pada spina bifida. Selain itu juga bisa disebabkan karena cedera fisik, gizi, dan substansi berbahaya yang dikonsumsi  oleh ibu hamil juga berperan pada munculnya gangguan kognitif pada bayi.


Pusat Otak dan Bidang Spesialisasinya

 Ide bahwa otak terdirugi dari banyak organ pertama kali dikemukakan oleh Franz Joseph Gall (1700-an),  dan penemuan selanjutnya menimbulkan kepercayaaan adanya pusat-pusat di otak yang bertanggung jawab untuk fungsi-fungsi yang berlainan Pertama yaitu Pierre Paul Broca, ahli anatomis dari Prancis, mempelajari autopsi pasiennya yang kesulitan bicara, namun memahami bahasa tulis dan ucapan. Ia menemukan bahwa ada kerusakan di otak pada cuping frontal bagian bawah yang diasosiasikan dengan problem pengucapan.

Kedua, Karl Wernicke , neurologis dari Jerman, menemukan kerusakan di area-area tertentu di cuping temporal kiri yang menyebabkan ketidakmampuan memahami komunikasi dan ucapan. Pasien juga mengucapkan kata-kata yang tidak bermakna dan tidak mampu menyusun kalimat bermakna. Kedua area otak yang dijelaskan oleh kedua penemu ini dinamai sesuai nama mereka, area Broca dan area Wernicke

Penjelasan potensial tentang asosiasi yang tepat mengenai kedua belahan otak kanan dan kiri adalah :
(1) hubungan antar belahan bersifat dinamis, (2) tugas-tugas baru ditangani oleh belahan kanan, dan (3) kontrol beralih ke belahan kiri setelah tugas menjadi rutinitas.

sumber :

Gtedler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana



Sabtu, 28 September 2013

BAB 2 - TEORI-TEORI BELAJAR AWAL




                                          
PENGKONDISIAN KLASIK DAN KONEKSIONISME
            Dua pendekatan awal untuk mempelajari perilaku adalah pengkondisian klasik dan koneksionisme.
Argumen Dasar Behaviorisme
            John Watson mendukung studi perilaku. Alasannya adalah semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respons-respons tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimulus) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respons yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebalikya.
            Setelah mendalami studi perilaku, Watson menemukan riset reflex motorik dari psikolog rusia, V.M Bekheterev. Karya Bekheterev penting, karena ia berhasil memanipulasi reaksi behavioral di dalam laboratorium.
Asumsi Dasar
            Behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Asumsi itu adalah :
1.      Fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
2.      Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik)
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral.

Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks
            Kisah riset Pavlov memperlihatkan seorang ilmuwan yang secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengontrol perilaku sederhana saat meneliti reflex keluarnya air liur anjing. Dia sendiri, menemukan bahwa reaksi tidak sengaja, keluarnya air liur, dapat dilatih untuk merespons suara yang tidak berhubungan dengan makanan.
Riset di Laboratorium Pavlov
            Fokus riset yang diawasi oleh Pavlov adalah reflex air liur anjing. Pada mulanya Pavlov menyebut reaksi air liur ini sebagai reflex yang dikondisikan. Namun, pada riset berikutnya, V.N Boldyrev menemukan bahwa reflex air liur ini bisa dilatih untuk merespons (dikondisikan) objek-objek atau kejadian dari modalitas indrawi, seperti : suara, penglihatan, atau sentuhan (Windholz, 1997).
            Riset di laboratorium Pavlov ini penting karena 2 sebab, yaitu :
a.       menunjukkan bahwa reaksi keluarnya air liur adalah reflex
b.      mengubah relasi alamiah antara stimulus dan reaksi diman dianggap sebagai penemuan penting dalam studi perilaku.

Paradigma Pengkondisian Klasik
            Proses dimana kejadian atau stimuli mampu memicu respon dikenal sebagai refleks atau pengkondisian klasik.Proses pengkondisian klasik terdiri dari tiga tahap, yaitu :
a.       pra eksperimental
b.      memasang stimulus asli dengan stimulus baru yang tidak berhubungan dengan reaksi
c.       stimulus baru menimbulkan reaksi
Dalam relasi ilmiah, stimulus dan reaksi otomatisnya disebut sebagai unconditioned stimulus (UCS), dan unconditioned response (UCR) atau respon yang tidak dikondisikan.CS adalah hasil dari training, dan CR adalah reaksi yang terlatih merespon stimulus baru.

Behaviorisme John Watson
Watson mengidentifikasi tiga reaksi emosional bayi yang bersifat naluriah, yaitu reaksi yang terjadi secara alami. Reaksi tersebut adalah cinta, marah dan takut (Watson, 1928; Watson & Morgan, 1917). Misalnya, respons takur terjadi dilingkungan alamiah setelah adanya suara keras atau kurangnya dukungan pada bayi.
            Watson sepakat dengan Sigmund Freud, bahwa kehidupan emosi dewasa dimulai sejak masa bayi dan emosi itu dapat ditransfer dari satu objek/kejadian ke objek/kejadian lainnya (Watson & Morgan, 1917).  Watson menunjukkan teorinya dalam eksperimen dengan Albert, bayi berusia 11 bulan. Reaksi takut Albert dikondisikan ke tikus putih dan reaksi ini ditransfer ke kelinci putih.
Koneksionisme Edward Thorndike
            Thorndike memilih bereksperimen dalam kondisi terkontrol untuk mengembangkan teorinya. Dalam eksperimennya, hewan dikurung dengan makanan diletakkan di luar atau di kotak tertutup. Tugas bagi hewan lapar itu adalah membuka makanan atau sangkar dan mendapatkan makanan. Thorndike menyebut eksperimen ini sebagai pengkondisian instrumental untuk merefleksikan perbedaannya dengan pengkondisian klasik. Teori ini dikenal sebagai koneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli particular dengan perilaku mandiri.
            Dari hasil percobaan yang dilakukan Thorndike pada beberapa hewan, Thorndike mengidentifikasi tiga hukum belajar. Pertama, hukum efek (laws of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respons akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut. Hukum efek penting karena dapat mengidentifikasi mekanisme baru dalam proses belajar. Kedua, hukum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa perulangan atau repetisi dari pengalaman akan meningkatkan peluang respons yang benar. Ketiga, hukum kesiapan (law of readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatru keadaan yang disebut sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”. Pelaksanaan tindakan dalam merespons impuls yang kuat adalah memuaskan, sedangkan perintangan tindakan atau memaksakannya dalam kondisi lain adalah menjengkelkan.

PSIKOLOG GESTALT

Fokus awal riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Bersama dengan Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler, Wertheimer mengembangkan hukum persepsi dan mengaplikasikan konsep ini ke belajar dan pemikiran. Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa:
a.       Ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana
b.      Proses ini konstruktif karena individual sering menstransformasikan input visual yang tidak lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas
Asumsi Dasar
Empat asumsi dasar perspektif Gestalt dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Asumsi
Contoh
1.    Yang mestinya dipelajari adalah prilaku molar, bukan prilaku molecular
Kinerja seorang mahasiswa di kelas saat dosen memberi kuliah
2.    Organisme merespons “keseluruhan sensoris yang tersegregasi” atau gestalten ketimbang pada stimuli spesifik atau kejadian-kejadian yang terpisah dan independen
Susunan geometris dari 11 titik dilihat sebagai sebuah salib

                     º
                     º
                     º
           º  º  º  º  º  º  º
                     º
                     º
                     º
3.    Lingkungan geografis, yang hadir sebagaimana adanya, berbeda dengan lingkungan behavioral, yang merupakan cara sesuatu muncul. Lingkungan behavioral adalah realitas subjektif
Koffka mendeskripsikan peristiwa seorang pria mengendarai kuda melewati datran di tengah badai salju menuju sebuah penginapan. Ketika ditanya dari mana ia berasal, lelaki itu menunjuk arah seberang penginapan. Pemilik penginapan terkejut dan bertanya apakah lelaki itu tahu dia sebenarnya berkuda di atas danau yang membeku. Ceritanya lelaki itu jatuh dan mati karena terkejut ketika sadar dirinya sudah menyeberangi danau berlapis es tipis bermil-mil
4.    Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.
Sebuah gambar (misal, kubus) yang sama namun dipersepsi secara berbeda berdasar relasi dari garis-garisnya


Hukum Organisasi Perseptual
            Gestalt berpendapat bahwa tugas utama psikologi adalah mengetahui bagaimana individu secara psikologis memahami atau mempersepsi lingkungan geografis. Mereka mendefinisikan persepsi sebagai proses pengorganisasian stimuli yang diamati di mana pengamat memberikan makna kepada serangkaian stimuli. Hukum Gestakt dasar, yakni hukum Pragnanz, dan hukum terkait primer yang mendeskripsikan semua pengaruh ini.
Hukum Pragnanz.
Istilah Pragnanz berarti esensi, dan hukum ini menunjukkan pengorganisasian psikologis terhadap sekelompok stimuli. Dalam setiap rangkaian stimulus, organisasinya dipersepsikan oleh individu sebagai satu stimuli yang: (a) paling komprehensif; (b) paling labil; (c) bebas dari sebab-akibat dan arbitrer.
Hukum terkait
            Hukum pengorganisasian perseptual mendeskripsikan empat karakteristik utama dari bidang visual yang mempengaruhi persepsi. Karakteristik itu adalah kedekatan dari setiap elemen (proximity), ciri yang sama, seperti warna (similarity), tendensi elemen untuk melengkapi pola (open direction), dan kontribusi elemen stimulus terhadap struktur sederhana keseluruhan (simplicity).


PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN GESTALT
Kedua teori ini mengilustrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dalam kondisi yang terkontrol.
Aplikasi ke Pendidikan
Psikologi Behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar serta fokus studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons spesifik sebagai focus riset, sedangkan psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memecahkan masalah.
Behaviorisme
Pengkondisian klasik juga membahas aspek-aspek dari situasi sehari-hari, misalnya untuk hari pertama anak, di kelas taman kanak-kanak dan sekolah dasar, aktivitas yang dilakukan haruslah kegiatan yang dapat menghindari asosiasi kecemasan dan perasaan negative lainnya terhadap latar sekolah.
Guthrie juga menyarankan guru untuk mengasosiasikan stimuli dan respons secara tepat. Misalnya, guru harus memastikan bahwa instruksi seperti mengantri makan siang tidak menimbulkan perilaku distruptif. Masalahnya adalah bahwa sebuah perintah dapat menjadi petunjuk untuk munculnya perilaku distruptif di masa depan.
Psikologi Gestalt
Isu yang diangkat psikologi Gestalt untuk masalah pendidikan adalah soal makna, pemahaman, dan wawasan yang merupakan karakteristik manusia. Komputer, dapat menjadi pemecah masalah manusia, setelah masalahnya dipahami.
Kesulitan dalam mengaplikasikan perspektif Gestalt di kelas adalah kurangnya prinsip yang terdefinisikan dengan jelas. Periset Gestalt mengemukakan beberapa saran untuk pembelajaran memecahkan masalah, yaitu :
a.       membuat tugas dalam belajar di dalam situasi yang konkrit dan akurat.
b.      asistensi selama pemecahan masalah tidak boleh berupa prosedur pengulangan dan peniruan.

sumber

Gtedler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana 

Minggu, 29 September 2013

BAB 3 - OTAK MANUSIA

Diposting oleh Hikmah Nasution di 22.05 0 komentar Link ke posting ini


Otak manusia adalah sistem alamiah yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam ini; kompleksitasnya menyamai dan mungkin melebihi kompleksitas struktur ekonomi dan sosial yang paling rumit sekalipun. Otak adalah bidang ilmu yang baru. (Goldberg, 2001) "

Pembentukan Otak

Pembentuk dasar otak adalah neuron, yang merupakan unit komunikasi, sel-sel glial, yang memberikan dukungan struktural untuk neuron. Masing-masing neuron terdiri dari satu sel dan kabel” komunikasi antar neuron dinamakan axon (“ekor panjang”) dan seperangkat dendrite atau cabang.
Saat perkembangan prenatal, kemunculan neuron  dan perjalanannya menuju lokasi otak adalah melalaui peristiwa-peristiwa dan proses yang terjadi pada waktu tertentu. Perkembangan ini dimulai pada akhir minggu ketiga masa kehamilan. Pada akhirnya, sekitar 50% akan berkembang menjadi sum-sum tulang belakang dan bagian kepala membentuk otak. Ketika telah terbentuk, tabung neurol ini tenggelam dibawah permukaan embrio dan tertanam didalam.

Kelahiran dan Migrasi Neuron

Setelah pembentukan jaringan neural, sebagian besar neuron lahir selama 100 hari pertama kehamilan di satu lokasi jaringan. Neuron-neuron itu kemudian berpindah menempuh jarak yang jauh. Beberapa neural hanya mampu menempuh jarak pendek dan disingkirkan oleh neuron di belakangnya. Neuron lain bergerak langsung menuju lokasi terjauh dan jarak yang ditempuh itu membutuhkan perjalanan puluhan ribu kali lipat dari panjang neuron. Jarak ini sama dengan jarak 25 kilometer bagi ukuran manusia.

Jaringan neural
Neuron terkoneksi dalam sirkuit dan masing-masing berfungsi sebagai penerima dan pengirim sinyal listrik dan kimia. Di dalam jaringan ini, individu membangun model internal dari dunia riil dan juga mengoordinasi rencana aksi pada dunia itu


Peran Neurotransmitter

Ketika satu neuron aktif, maka ia akan mengirimkan aliran listrik melewati axon ke synapse. Tindakan ini disebut "memantik". Waktu untuk memantikkan sinyal sekitar 10 mil detik, dan otak memproduksi jutaan pola ini di  sirkbesar. uit yang
Ketika aliran listrik sampai ke sinaps, ia kemudian dibawa melintasi synapse oleh cairan kimia yang disebut neurotransmitter. Proses ini berlangsung sangat cepat yaitu selama 1/10 juta detik. Efek neurotransmitter terhadap neuron penerima adalah menaikkan kemungkinan neuron itu teraktivasi atau menurunkan kemungkinan aktivasi.  Ada beberapa neurotransmitter di otak, salah satunya serotonin, yang memberikan konstribusi hampir semua aspek kognitif dan perilaku. dan  dopamin, yang berkontribusi dalam suasana hati.

Faktor yang Berpotensi Merusak

Perkembangan normal dapat terganggu oleh beberapa faktor. Misalnya kegagalan jaringan neural untuk menutup akan menyebabkan kondisi yang disebut spina bifida. Defisiensi vitamin asam folic pada makanan ibu hamil dapat menyebabkan cacat pada jaringan neural ini, termasuk pada spina bifida. Selain itu juga bisa disebabkan karena cedera fisik, gizi, dan substansi berbahaya yang dikonsumsi  oleh ibu hamil juga berperan pada munculnya gangguan kognitif pada bayi.


Pusat Otak dan Bidang Spesialisasinya

 Ide bahwa otak terdirugi dari banyak organ pertama kali dikemukakan oleh Franz Joseph Gall (1700-an),  dan penemuan selanjutnya menimbulkan kepercayaaan adanya pusat-pusat di otak yang bertanggung jawab untuk fungsi-fungsi yang berlainan Pertama yaitu Pierre Paul Broca, ahli anatomis dari Prancis, mempelajari autopsi pasiennya yang kesulitan bicara, namun memahami bahasa tulis dan ucapan. Ia menemukan bahwa ada kerusakan di otak pada cuping frontal bagian bawah yang diasosiasikan dengan problem pengucapan.

Kedua, Karl Wernicke , neurologis dari Jerman, menemukan kerusakan di area-area tertentu di cuping temporal kiri yang menyebabkan ketidakmampuan memahami komunikasi dan ucapan. Pasien juga mengucapkan kata-kata yang tidak bermakna dan tidak mampu menyusun kalimat bermakna. Kedua area otak yang dijelaskan oleh kedua penemu ini dinamai sesuai nama mereka, area Broca dan area Wernicke

Penjelasan potensial tentang asosiasi yang tepat mengenai kedua belahan otak kanan dan kiri adalah :
(1) hubungan antar belahan bersifat dinamis, (2) tugas-tugas baru ditangani oleh belahan kanan, dan (3) kontrol beralih ke belahan kiri setelah tugas menjadi rutinitas.

sumber :

Gtedler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana



Sabtu, 28 September 2013

BAB 2 - TEORI-TEORI BELAJAR AWAL

Diposting oleh Hikmah Nasution di 17.59 0 komentar Link ke posting ini



                                          
PENGKONDISIAN KLASIK DAN KONEKSIONISME
            Dua pendekatan awal untuk mempelajari perilaku adalah pengkondisian klasik dan koneksionisme.
Argumen Dasar Behaviorisme
            John Watson mendukung studi perilaku. Alasannya adalah semua organisme menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui respons, dan respons-respons tertentu biasanya disebabkan oleh peristiwa (stimulus) tertentu. Dengan mempelajari perilaku, psikolog akan mampu untuk memprediksi respons yang ditimbulkan lewat stimulus, dan sebalikya.
            Setelah mendalami studi perilaku, Watson menemukan riset reflex motorik dari psikolog rusia, V.M Bekheterev. Karya Bekheterev penting, karena ia berhasil memanipulasi reaksi behavioral di dalam laboratorium.
Asumsi Dasar
            Behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Asumsi itu adalah :
1.      Fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekonstruksi verbal atas kejadian.
2.      Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respon spesifik)
3.      Proses belajar adalah perubahan behavioral.

Pavlov dan Pengkondisian Klasik atau Refleks
            Kisah riset Pavlov memperlihatkan seorang ilmuwan yang secara tidak sengaja menemukan cara untuk mengontrol perilaku sederhana saat meneliti reflex keluarnya air liur anjing. Dia sendiri, menemukan bahwa reaksi tidak sengaja, keluarnya air liur, dapat dilatih untuk merespons suara yang tidak berhubungan dengan makanan.
Riset di Laboratorium Pavlov
            Fokus riset yang diawasi oleh Pavlov adalah reflex air liur anjing. Pada mulanya Pavlov menyebut reaksi air liur ini sebagai reflex yang dikondisikan. Namun, pada riset berikutnya, V.N Boldyrev menemukan bahwa reflex air liur ini bisa dilatih untuk merespons (dikondisikan) objek-objek atau kejadian dari modalitas indrawi, seperti : suara, penglihatan, atau sentuhan (Windholz, 1997).
            Riset di laboratorium Pavlov ini penting karena 2 sebab, yaitu :
a.       menunjukkan bahwa reaksi keluarnya air liur adalah reflex
b.      mengubah relasi alamiah antara stimulus dan reaksi diman dianggap sebagai penemuan penting dalam studi perilaku.

Paradigma Pengkondisian Klasik
            Proses dimana kejadian atau stimuli mampu memicu respon dikenal sebagai refleks atau pengkondisian klasik.Proses pengkondisian klasik terdiri dari tiga tahap, yaitu :
a.       pra eksperimental
b.      memasang stimulus asli dengan stimulus baru yang tidak berhubungan dengan reaksi
c.       stimulus baru menimbulkan reaksi
Dalam relasi ilmiah, stimulus dan reaksi otomatisnya disebut sebagai unconditioned stimulus (UCS), dan unconditioned response (UCR) atau respon yang tidak dikondisikan.CS adalah hasil dari training, dan CR adalah reaksi yang terlatih merespon stimulus baru.

Behaviorisme John Watson
Watson mengidentifikasi tiga reaksi emosional bayi yang bersifat naluriah, yaitu reaksi yang terjadi secara alami. Reaksi tersebut adalah cinta, marah dan takut (Watson, 1928; Watson & Morgan, 1917). Misalnya, respons takur terjadi dilingkungan alamiah setelah adanya suara keras atau kurangnya dukungan pada bayi.
            Watson sepakat dengan Sigmund Freud, bahwa kehidupan emosi dewasa dimulai sejak masa bayi dan emosi itu dapat ditransfer dari satu objek/kejadian ke objek/kejadian lainnya (Watson & Morgan, 1917).  Watson menunjukkan teorinya dalam eksperimen dengan Albert, bayi berusia 11 bulan. Reaksi takut Albert dikondisikan ke tikus putih dan reaksi ini ditransfer ke kelinci putih.
Koneksionisme Edward Thorndike
            Thorndike memilih bereksperimen dalam kondisi terkontrol untuk mengembangkan teorinya. Dalam eksperimennya, hewan dikurung dengan makanan diletakkan di luar atau di kotak tertutup. Tugas bagi hewan lapar itu adalah membuka makanan atau sangkar dan mendapatkan makanan. Thorndike menyebut eksperimen ini sebagai pengkondisian instrumental untuk merefleksikan perbedaannya dengan pengkondisian klasik. Teori ini dikenal sebagai koneksionisme karena hewan membangun koneksi antara stimuli particular dengan perilaku mandiri.
            Dari hasil percobaan yang dilakukan Thorndike pada beberapa hewan, Thorndike mengidentifikasi tiga hukum belajar. Pertama, hukum efek (laws of effects) menyatakan bahwa suatu keadaan yang memuaskan setelah respons akan memperkuat koneksi antara stimulus dan perilaku yang tepat, dan keadaan yang menjengkelkan akan melemahkan koneksi tersebut. Hukum efek penting karena dapat mengidentifikasi mekanisme baru dalam proses belajar. Kedua, hukum latihan (law of exercise) menyatakan bahwa perulangan atau repetisi dari pengalaman akan meningkatkan peluang respons yang benar. Ketiga, hukum kesiapan (law of readiness) mendeskripsikan kondisi yang mengatru keadaan yang disebut sebagai “memuaskan” atau “menjengkelkan”. Pelaksanaan tindakan dalam merespons impuls yang kuat adalah memuaskan, sedangkan perintangan tindakan atau memaksakannya dalam kondisi lain adalah menjengkelkan.

PSIKOLOG GESTALT

Fokus awal riset Gestalt adalah pengalaman persepsi. Bersama dengan Kurt Koffka dan Wolfgang Kohler, Wertheimer mengembangkan hukum persepsi dan mengaplikasikan konsep ini ke belajar dan pemikiran. Riset yang dilakukan psikologi Gestalt terhadap persepsi visual menunjukkan bahwa:
a.       Ciri global dideteksi sebagai keseluruhan, bukan sebagai elemen-elemen sederhana
b.      Proses ini konstruktif karena individual sering menstransformasikan input visual yang tidak lengkap ke dalam citra perseptual yang lebih jelas
Asumsi Dasar
Empat asumsi dasar perspektif Gestalt dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Asumsi
Contoh
1.    Yang mestinya dipelajari adalah prilaku molar, bukan prilaku molecular
Kinerja seorang mahasiswa di kelas saat dosen memberi kuliah
2.    Organisme merespons “keseluruhan sensoris yang tersegregasi” atau gestalten ketimbang pada stimuli spesifik atau kejadian-kejadian yang terpisah dan independen
Susunan geometris dari 11 titik dilihat sebagai sebuah salib

                     º
                     º
                     º
           º  º  º  º  º  º  º
                     º
                     º
                     º
3.    Lingkungan geografis, yang hadir sebagaimana adanya, berbeda dengan lingkungan behavioral, yang merupakan cara sesuatu muncul. Lingkungan behavioral adalah realitas subjektif
Koffka mendeskripsikan peristiwa seorang pria mengendarai kuda melewati datran di tengah badai salju menuju sebuah penginapan. Ketika ditanya dari mana ia berasal, lelaki itu menunjuk arah seberang penginapan. Pemilik penginapan terkejut dan bertanya apakah lelaki itu tahu dia sebenarnya berkuda di atas danau yang membeku. Ceritanya lelaki itu jatuh dan mati karena terkejut ketika sadar dirinya sudah menyeberangi danau berlapis es tipis bermil-mil
4.    Organisasi lingkungan sensoris adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu.
Sebuah gambar (misal, kubus) yang sama namun dipersepsi secara berbeda berdasar relasi dari garis-garisnya


Hukum Organisasi Perseptual
            Gestalt berpendapat bahwa tugas utama psikologi adalah mengetahui bagaimana individu secara psikologis memahami atau mempersepsi lingkungan geografis. Mereka mendefinisikan persepsi sebagai proses pengorganisasian stimuli yang diamati di mana pengamat memberikan makna kepada serangkaian stimuli. Hukum Gestakt dasar, yakni hukum Pragnanz, dan hukum terkait primer yang mendeskripsikan semua pengaruh ini.
Hukum Pragnanz.
Istilah Pragnanz berarti esensi, dan hukum ini menunjukkan pengorganisasian psikologis terhadap sekelompok stimuli. Dalam setiap rangkaian stimulus, organisasinya dipersepsikan oleh individu sebagai satu stimuli yang: (a) paling komprehensif; (b) paling labil; (c) bebas dari sebab-akibat dan arbitrer.
Hukum terkait
            Hukum pengorganisasian perseptual mendeskripsikan empat karakteristik utama dari bidang visual yang mempengaruhi persepsi. Karakteristik itu adalah kedekatan dari setiap elemen (proximity), ciri yang sama, seperti warna (similarity), tendensi elemen untuk melengkapi pola (open direction), dan kontribusi elemen stimulus terhadap struktur sederhana keseluruhan (simplicity).


PERBANDINGAN ANTARA BEHAVIORISME DAN GESTALT
Kedua teori ini mengilustrasikan perkembangan pengetahuan melalui pengukuran yang akurat dan riset dalam kondisi yang terkontrol.
Aplikasi ke Pendidikan
Psikologi Behaviorisme dan Gestalt mendasarkan risetnya pada asumsi yang berbeda mengenai sifat dan belajar serta fokus studinya. Behaviorisme mendefinisikan belajar sebagai perubahan perilaku dan mengidentifikasi stimuli dan respons spesifik sebagai focus riset, sedangkan psikologi Gestalt berpendapat bahwa seseorang merespons stimuli yang terorganisasi dan persepsi perorangan adalah faktor penting untuk memecahkan masalah.
Behaviorisme
Pengkondisian klasik juga membahas aspek-aspek dari situasi sehari-hari, misalnya untuk hari pertama anak, di kelas taman kanak-kanak dan sekolah dasar, aktivitas yang dilakukan haruslah kegiatan yang dapat menghindari asosiasi kecemasan dan perasaan negative lainnya terhadap latar sekolah.
Guthrie juga menyarankan guru untuk mengasosiasikan stimuli dan respons secara tepat. Misalnya, guru harus memastikan bahwa instruksi seperti mengantri makan siang tidak menimbulkan perilaku distruptif. Masalahnya adalah bahwa sebuah perintah dapat menjadi petunjuk untuk munculnya perilaku distruptif di masa depan.
Psikologi Gestalt
Isu yang diangkat psikologi Gestalt untuk masalah pendidikan adalah soal makna, pemahaman, dan wawasan yang merupakan karakteristik manusia. Komputer, dapat menjadi pemecah masalah manusia, setelah masalahnya dipahami.
Kesulitan dalam mengaplikasikan perspektif Gestalt di kelas adalah kurangnya prinsip yang terdefinisikan dengan jelas. Periset Gestalt mengemukakan beberapa saran untuk pembelajaran memecahkan masalah, yaitu :
a.       membuat tugas dalam belajar di dalam situasi yang konkrit dan akurat.
b.      asistensi selama pemecahan masalah tidak boleh berupa prosedur pengulangan dan peniruan.

sumber

Gtedler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana